<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>imadeharyoga.com &#187; Gede Prama</title>
	<atom:link href="http://imadeharyoga.com/tag/gede-prama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imadeharyoga.com</link>
	<description>my name is made haryoga, one from a millions family doctor in denpasar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Mar 2011 13:44:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Naik tidak perlu persiapan, namun turun perlu persiapan</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2010/01/naik-tidak-perlu-persiapan-namun-turun-perlu-persiapan/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2010/01/naik-tidak-perlu-persiapan-namun-turun-perlu-persiapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 13:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[kata kontroversial]]></category>
		<category><![CDATA[kata mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan naik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah kalimat yang kontroversial, “naik tidak perlu persiapan, turunlah yang perlu persiapan”. Kalimat ini pertama kali saya dengar dari seorang penceramah yang saya kagumi, Gede Prama. Benar atau tidaknya kalimat ini tergantung dari sudut mana kita mengartikannya.
Saat ini kebanyakan orang selalu berkeinginan melebihi orang lain, menjadi sesuatu yang lebih, menjadi sesuatu yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah sebuah kalimat yang kontroversial, “naik tidak perlu persiapan, turunlah yang perlu persiapan”. Kalimat ini pertama kali saya dengar dari seorang penceramah yang saya kagumi, Gede Prama. Benar atau tidaknya kalimat ini tergantung dari sudut mana kita mengartikannya.</p>
<p>Saat ini kebanyakan orang selalu berkeinginan melebihi orang lain, menjadi sesuatu yang lebih, menjadi sesuatu yang paling super, seperti pangkat yang tinggi, kedudukan yang tertinggi, uang yang banyak, rumah yang paling megah, dan banyak hal lainnya yang kita anggap akan memberikan kepuasan bathin kita. Bahkan secara tidak sengaja mempersiapkan diri untuk memiliki hidup yang penuh kemewahan ini. Tidak jarang banyak orang yang miskin pun memaksakan diri bergaya hidup mewah.</p>
<p>Seorang keryawan berangan-angan menjadi bos, seorang miskin berangan-angan menjadi kaya raya.</p>
<p>Namun saat telah mendapatkan kejayaan dan kemewahan itu, orang sering lupa mempersiapkan diri bila kelak bisa saja akan menjadi menderita dan segalanya tidak ada, atau segalanya tidak bisa, entah karena dimakan usia, atau mendapatkan kebangkrutan, atau bencana alam, atau gagal promosi, atau kegagalan-kegagalan yang lainnya.</p>
<p>Maka timbullah stess, cemas, depresi dan tidak jarang orang menjadi <em>konslet</em> dan menderita kelainan jiwa. Mendadak menjadi paranoid, atau bahkan menjadi tertawa-tertawa dan menangis sendiri serta menjadi gembel,hidup dalam dunianya sendiri ,seperti dunia kedokteran sebut sebagai Skizofrenia paranoid dan skizofrenia hebefrenik  (populernya disebut gila).</p>
<p>Tidak jarang seorang direktur suatu perusahaan besar menjadi depresi bahkan skizofrenia (gila) saat usia pensiunnya tiba. Banyak konglomerat yang mendadak bunuh diri saat bisnisnya gagal dan menderita kerugian yang besar.  Kebiasaan dilayani, kebiasaan memerintah, kebiasaan selalu diatas dan penuh kemewahan kadang membuat kita lupa mempersiapkan diri untuk turun menjadi orang yang tidak ada apa-apanya lagi. Menjadi orang yang tidak pernah diperhitungkan lagi….</p>
<p>Jadi ingat pasien saat coass dulu di lab. Psikiatri….. Saat seorang pelatih militer yang ditakuti anak buahnya pada masanya, kini tiba-tiba terserang depresi saat usia pensiunnya tiba, tidak ada lagi yang dibentak, tak ada lagi yang mempedulikannya karena mereka semua hanya hormat karena takut. Jelaslah bahwa bapak pensiunan ini tidak siap menghadapi usia-usia pensiunnya.</p>
<p>Kita semua siap saat di atas…namun saat kita di bawah tidak semua dari kita siap.</p>
<p>“naik tidak perlu persiapan, turun perlu persiapan”</p>
<p>Karena semua orang akan tiba saatnya menghadapi saat-saat TURUN kembali.</p>
<p>jadi ingat dengan nasehat orang tua &#8220;saat berjalan janganlah selalu menoleh keatas&#8230;. sesekali lihatlah kebawah&#8230; sehingga tidak tersandung&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2010/01/naik-tidak-perlu-persiapan-namun-turun-perlu-persiapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merendah Itu Ternyata Indah</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/05/merendah-itu-ternyata-indah/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/05/merendah-itu-ternyata-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 12:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[arak bali]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakasanaan]]></category>
		<category><![CDATA[kick andy]]></category>
		<category><![CDATA[merendah]]></category>
		<category><![CDATA[merendah itu indah]]></category>
		<category><![CDATA[pulau bali]]></category>
		<category><![CDATA[renon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Menonton Kick Andy kemarin malam membuat hati sedikit hilang kegundahannya. Menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus dicapai dengan memperoleh kedudukan dan kekayaan tapi alangkah lebih baik bila kebahagiaan itu diperoleh dari kepuasaan menolong orang lain. Seperti yang dikatakan gede Prama di acara ini, sementara politikus kita berebut kedudukan untuk membahagiakan dirinya, namun dipinggiran sana ada ibu-ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://www.atlastours.net"><img class="alignleft" src="http://www.atlastours.net/jordan/dead_sea_sunset.jpg" alt="" width="329" height="228" /></a>Menonton Kick Andy kemarin malam membuat hati sedikit hilang kegundahannya. Menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus dicapai dengan memperoleh kedudukan dan kekayaan tapi alangkah lebih baik bila kebahagiaan itu diperoleh dari kepuasaan menolong orang lain. Seperti yang dikatakan gede Prama di acara ini, sementara politikus kita berebut kedudukan untuk membahagiakan dirinya, namun dipinggiran sana ada ibu-ibu yang mendapatkan kebahabiaannya dengan secara sukarela mengajarkan ibu-ibu buta aksara untuk belajar membaca dan menulis. Benar-benar tipe kebahagiaan yang berbeda.<span id="more-336"></span></p>
<p class="MsoNormal">Saya jadi ingat dengan cerita kebijaksanaan yang ditulis Bapak Gede Prama ini yang bercerita tentang kerendahan hati menjadi jalan hidup. Saya sengaja mengutipnya beberapa tahun lalu.</p>
<p class="MsoNormal">MERENDAH ITU INDAH<br />
Posted by Gede Blue on 2004-09-15</p>
<p class="MsoNormal">Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja : bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.</p>
<p>Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, &#8217;seperti sentimen, benci, dan sejenisnya &#8216;, menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, <a href="http://creagrus.home.montereybay.com/"><img class="alignright" src="http://creagrus.home.montereybay.com/FurSea_N-MMeyers-9Fb03.jpg" alt="" width="319" height="221" /></a>mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif &#8217;sabar, tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya&#8217; menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang memerlukannya.</p>
<p>Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi demikian. Penyelesaian persoalan manapun &#8216;termasuk persoalan perburuhan ala Shangrila&#8217; bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.</p>
<p>Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif, kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.</p>
<p>Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai pengkondisian yang mematikan.</p>
<p>Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang membuatnya demikian, karena laut berani merendah.</p>
<p>Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian untuk merendah.</p>
<p>Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : &#8216;kita bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati&#8217;.</p>
<p>by Gede Prama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/05/merendah-itu-ternyata-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TERBANG DENGAN SAYAP KEBEBASAN</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2008/09/terbang-dengan-sayap-kebebasan/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2008/09/terbang-dengan-sayap-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 12:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[haryoga]]></category>
		<category><![CDATA[sayap kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[Terbang Dengan Sayap Kebebasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[ini adalah sebuah tulisan Gede Prama yang saya ambil dari sebuah website. sebuah tulisan tentang melepaskan sesuatu untuk mencapai kebebasan, bahwa kebahagiaan diperoleh dengan melepaskan bukan menambah. begitu menurut saya&#8230;tapi sebaiknya baca saja seluruhnya dan renungkan.

Belasan tahun yang lalu, ketika Jaddu Krishnamurti mengetuk pintu kehidupan saya melalui ide provokatif tentang Freedom From The Known, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;&quot;; color: #0a2154;">ini adalah sebuah tulisan Gede Prama yang saya ambil dari sebuah website. sebuah tulisan tentang melepaskan sesuatu untuk mencapai kebebasan, bahwa kebahagiaan diperoleh dengan melepaskan bukan menambah. begitu menurut saya&#8230;tapi sebaiknya baca saja seluruhnya dan renungkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"><img class="alignleft" title="gede prama1" src="http://farm1.static.flickr.com/176/472979945_eea88d356a.jpg?v=0" alt="" width="209" height="295" /><span class="verdana8point1"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;&quot;; color: #0a2154;">Belasan tahun yang lalu, ketika Jaddu Krishnamurti mengetuk pintu kehidupan saya melalui ide provokatif tentang Freedom From The Known, ada bagian-bagian tertentu dari bangunan hidup ini yang berguncang. Bagaimana tidak berguncang, setelah puluhan tahun menghabiskan banyak waktu dan tenaga duduk di sekolah. Ratusan ulangan dan ujian sudah menyita demikian banyak keringat. Jutaan kejadian lewat membawa judul “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Ribuan jam telah hilang hanya untuk membaca buku, jurnal, majalah, harian, menonton tv, vcd dan masih banyak lagi sumber pengetahuan yang lain. Tiba-tiba ada ajakan dari Krishnamurti untuk membebaskan diri segera dari semua hal yang telah diketahui. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"><span id="more-6"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Hanya karena ketika itu umur masih muda, dorongan-dorongan mesin “kehebatan” masih menderu-deru, dan sumber motivasi berkarya yang paling banyak ketika itu adalah kekaguman orang lain, jadilah karya Krishnamurti tadi bahan-bahan yang membuat tulisan dan pembicaraan tampak hebat baju luarnya. Sayangnya, di dalamnya kosong melompong. Mirip dengan tong kosong, ketika dibunyikan memang nyaring bunyinya. Sayangnya, ketika dibuka bagian dalamnya. Yang tersisa hanyalah bukan apa-apa. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Mungkin itu yang disebut banyak sahabat bijak dengan perjalanan belajar. Sebagian orang memang mesti melalui tangga-tangga kesombongan yang memalukan. Sebagian malah melalui tangga-tangga kebodohan yang menyakitkan. Dan begitu semua ongkos belajar tadi dibayar, ada pintu-pintu kejernihan yang terbuka dengan sendirinya. Ada guru-guru kebijaksanaan yang mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Ada udara-udara segar keindahan yang masuk melalui lobang-lobang hidung. Demikian juga dengan makanan, semuanya seperti serba enak dan menyehatkan. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Menoleh ke tangga-tangga belajar masa lalu yang demikian memalukan, ada bagian dari diri ini yang tersenyum malu, ada juga bagian lain yang bersyukur. Sebab, ada rangkaian kesombongan yang sudah lewat. Diganti dengan tumpukan pelajaran penting yang membuat gunungan-gunungan kebijakan tambah tinggi. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Dulu, ide tentang membebaskan diri dari segala hal yang diketahui, memang berwajah pemberontakan. Maklum, kaca mata anak muda yang melihatnya memang suka memberontak. Sekarang, ketika kaca matanya sudah diganti dengan kaca mata lain, ide tadi sangat membebaskan. Ia lebih membebaskan dari pintu penjara manapun. Kalau pintu penjara hanya bisa membebaskan badan manusia, dan belum tentu pikiran dan jiwanya. Freedom from the known membebaskan ketiga-tiganya. Seperti malaikat bersayap yang datang dari langit, tiba-tiba ia menyambar dan membawa manusia terbang tingg-tinggi. Dan ketika di atas membekali manusia dengan sayap-sayap kokoh. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Tersentuh oleh kemampuan membebaskan yang demikian mengagumkan inilah, kemudian ada ketekunan untuk menghapus secara perlahan hal-hal yang pernah dicatat dalam memori. Menseleksi pengetahuan dan pengalaman yang ada. Mendudukkan semuanya sebatas sebagai pembantu yang duduk di bawah. Kemudian, berjalan secara perlahan ke depan dengan beban memori yang semakin sedikit. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Coba perhatikan sahabat-sahabat yang mudah kena stress. Atau mereka yang mudah sekali menambah musuh. Atau mereka yang merasa tidak pernah menemukan kebahagiaan. Atau yang paling parah ditimpa penyakit ini itu. Hampir semuanya tidak saja tidak bebas, tetapi juga terbelenggu oleh apa-apa yang mereka ketahui. Ada kejadian-kejadian masa lalu yang membuat perjalanan jadi amat berat. Ada pengetahuan masa lalu yang membuat ukuran dan kriteria di kepala, kemudian membuat hobi menghakimi jadi tambah subur. Dan ujung-ujungnya apa lagi kalau bukan musuh yang bertambah banyak. Ada rangkaian pengalaman yang membuahkan banyak kesedihan, kemudian membuat pemiliknya hidup dari satu penyesalan ke penyesalan yang lain. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Sehingga dalam totalitas, jadilah manusia seperti berjalan dengan beban gendongan yang demikian beratnya. Atau seperti kereta yang menarik demikian banyak gerbong yang tidak perlu. Tidak saja berat, susah berjalan, menghasilkan banyak stress dan penyakit, yang paling penting gagal terbang tinggi-tinggi dalam kehidupan. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Disinari oleh cahaya kejernihan seperti inilah, Krishnamurti seperti hadir kembali dalam pintu kehidupan, mengetuk dan berbisik : “sudah saatnya terbang!” Entah ada atau tidak orang yang terketuk oleh Krishnamurti. Yang jelas, apapun kejadian yang telah lewat, manusia manapun tidak bisa kembali untuk memperbaikinya. Berhandai-handai seolah-olah bisa melakukan sesuatu yang lebih baik di masa lalu, hanya akan memperpanjang daftar penyesalan. Neale Donald Walsch penulis Conversation with God yang jernih itu pernah menulis : semuanya sudah sempurna! </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Demikian juga dengan pengetahuan dan pengalaman. Ia tidak lebih dari sekadar jembatan-jembatan pemahaman. Sebagimana jembatan yang sebenarnya, begitu ia berhasil dilewati tidak ada pilihan lain terkecuali meninggalkannya di belakang. Mengingat-ingat serta menghafal pengetahuan secara berlebihan, atau menyimpan rapi pengalaman (baik maupun buruk) dalam kotak memori, mirip dengan memeluk jembatan erat-erat. Kalau kemudian perjalanan terhenti di jembatan, itu adalah harga yang harus dibayar. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Perjalanan hidup memang pilihan sekaligus hak masing-masing orang. Saya sudah lama belajar untuk berhenti menghakimi. Dalam perjalanan belajar berhenti menghakimi ini, ada yang berbisik dari dalam sini : mari kita terbang! Adakah sidang pembaca yang mau ikut ? ***** </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="verdana8point1"><span style="font-family: &quot;&quot;;">Penulis: Gede Prama</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2008/09/terbang-dengan-sayap-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

