<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>imadeharyoga.com &#187; bali</title>
	<atom:link href="http://imadeharyoga.com/tag/bali/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imadeharyoga.com</link>
	<description>my name is made haryoga, one from a millions family doctor in denpasar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Mar 2011 13:44:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Manusia Adalah Virus Itu Sendiri</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/08/manusia-adalah-virus-itu-sendiri/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/08/manusia-adalah-virus-itu-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 12:48:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[curahan perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[kata hati]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manusia adlah virus]]></category>
		<category><![CDATA[peduli lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[save our earth]]></category>
		<category><![CDATA[unek unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[
Kita ketahui manusia adalah mahkluk yang paling mulia dimuka bumi ini. Memiliki pikiran dan perasaan. Memiliki otak dan rasa untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh mahkluk lain. Manusia, hewan, tumbuhan, dan benda yang tidak bernyawa dimuka bumi ini adalah bagian dari alam. Manusia memiliki kasih sayang begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://journeytosolidarity.org/wp-content/uploads/2009/07/hiv_microscope.jpg"><img class="alignright" src="http://journeytosolidarity.org/wp-content/uploads/2009/07/hiv_microscope.jpg" alt="" width="316" height="212" /></a></p>
<p>Kita ketahui manusia adalah mahkluk yang paling mulia dimuka bumi ini. Memiliki pikiran dan perasaan. Memiliki otak dan rasa untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh mahkluk lain. Manusia, hewan, tumbuhan, dan benda yang tidak bernyawa dimuka bumi ini adalah bagian dari alam. Manusia memiliki kasih sayang begitu juga hewan dan tumbuhan. Manusia hewan dan tumbuh tumbuhan saling mencintai dan saling menghormati begitulah awal mulanya, begitulah perjanjiannya. Namun seiring<span id="more-449"></span> dengan waktu, manusia mulai mengkhianati alam. Manusia semakin memperbanyak dirinya dan dengan pikiran dan ciptaannya manusia menginvasi alam ini. Manusia kini mengklaim bumi sebagai planetnya…. Miliknya. Kini saudara-saudaranya, hewan dan tumbuhan, disingkirkan. Mereka sedikit demi sedikit punah karena tak bisa bertahan hidup. Manusia telah membunuh mereka demi membuat rumah manusia. Hewan dan tumbuhan dibantai seakan-akan mereka tidak pernah bersaudara. Manusia telah menganggap dirinya bukan sebagai bagian dari alam, melainkan yang memiliki alam ini. Manusia telah berubah.</p>
<p>Setiap hari manusia memperbanyak dirinya, mencari jalan untuk bertahan hidup lebih lama. Membunuh hewan untuk dimakan. Membunuh hewan untuk dikuliti hidup-hidup, membunuh hewan untuk diambil gadingnya, kulitnya, taringnya, jantungnya, darahnya, bahkan telor dan cangkangnya pun diambil hanya untuk kesenangan manusia atau hanya untuk apa yang mereka sebut uang. Tak berbeda nasibnya dengan hewan, tumbuh-tumbuhan pun dibantai, kecil besar semuanya dibantai hanya untuk kesenangan manusia membuat gedung-gedung, pabrik demi kelangsungan hidup manusia. Manusia telah mengkhianati saudara-saudaranya. Manusia tak lagi melihat hewan dan tumbuhan sebagai bagian dari hidupnya. Manusia tidak mengakui hewan dan tumbuhan sebagai saudara-saudaranya, bagian dari alam ini.</p>
<p>Timbul pertanyaan apakah manusia itu musuh alam ataukah bagian dari alam?</p>
<p>Bila diibaratkan bumi adalah tubuh manusia maka manusia adalah sama dengan virus mematikan yang belum ada obatnya dan terus berkembang membentuk koloni-koloni di dalam tubuh bumi. Manusia terus memperbanyak diri memperbanyak rumah-rumah dan keperluannya dengan merusak alam, hewan dan tumbuhan, layaknya gerombolan virus mematikan.bahkan tidak tanggung-tanggung saling membunuh diantara mereka sendiri demi kepentingan kelompoknya. Virus ini tidak bisa dimusnahkan sampai akhirnya seluruh tubuh bumi diambil alih dan tiba saatnya virus ini mencari tubuh yang lain meninggalkan bumi yang telah mereka rusak. Kini bumi tidak lagi bisa mempertahankan suhu tubuhnya. Kini bumi kehilangan sebagian besar kulit-kulit tubuhnya yang subur. Semua dilahap habis oleh virus keji yaitu manusia. Kotoran-kotoran dari virus ini pun merusak bumi. Udara, air , tanah semuanya rusak karena kotoran-kotoran dari virus ini. Ada yang berupa sampah plastic, karbon dioksida, limbah pabrik, asap hitam kendaraannya, dan semua kotoran ini semakin mempercepat kematian sang bumi.</p>
<p>Akankah manusia kembali sadar akan dirinya, mencintai bumi seperti dulu lagi? Datang kembali memeluk saudara-<a href="www.worth1000.com"><img class="alignright" src="http://rookery2.viary.com/storagev12/776500/776733_f4cf_625x1000.jpg" alt="" width="340" height="225" /></a>saudaranya, hewan dan tumbuhan, dengan penuh cinta kasih? Memberikan tempat untuk saudara-saudaranya yang kurang beruntung? Akan kah manusia benar-benar menjadi mahkluk yang mulia seperti yang digembor-gemborkan itu. Atau hanyalah segerombolan virus yang akan terus mengoyak-ngoyak tubuh bumi dan akhirnya meninggalkan bumi untuk mencari tubuh yang lain.</p>
<p>Oh manusia… dengarkanlah setiap malam saat engkau tertidur pulas… Ibu Bumi menangis…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/08/manusia-adalah-virus-itu-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan di pantai Nusa Dua&#8230;.Burung Pipit</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/06/jalan-di-pantai-nusa-dua-burung-pipit/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/06/jalan-di-pantai-nusa-dua-burung-pipit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 06:06:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[berjemur dipantai]]></category>
		<category><![CDATA[burung pipit]]></category>
		<category><![CDATA[burung terbakar]]></category>
		<category><![CDATA[gadis kecil]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[joke]]></category>
		<category><![CDATA[nusa dua]]></category>
		<category><![CDATA[pantai bali]]></category>
		<category><![CDATA[pantai indah]]></category>
		<category><![CDATA[pulau bali]]></category>
		<category><![CDATA[renon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[
Jalan-jalan dipantai nusa dua menikmati segarnya udara pantai. Sambil menikmati rujak mangga dengan kuah pindang kesukaan orang Badung waaah!! mantap sekali rasanya.
Pantai yang cukup sunyi dan tenang. Terlihat bule sedang merilekskan tubuhnya di tanah pantai berpasir putih, terlihat dua insan pasangan muda bule sedang asik mandi bersama dipinggir pantai sambil berpelukan dan bercanda tawa… ehheeem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lombokmarine.com/gallery/nusa_dua_aerial.jpg"><img class="alignright" src="http://www.lombokmarine.com/gallery/nusa_dua_aerial.jpg" alt="" width="360" height="215" /></a></p>
<p>Jalan-jalan dipantai nusa dua menikmati segarnya udara pantai. Sambil menikmati rujak mangga dengan kuah pindang kesukaan orang Badung waaah!! mantap sekali rasanya.</p>
<p>Pantai yang cukup sunyi dan tenang. Terlihat bule sedang merilekskan tubuhnya di tanah pantai berpasir putih, terlihat dua insan pasangan muda bule sedang asik mandi bersama dipinggir pantai sambil berpelukan dan bercanda tawa… <span id="more-382"></span>ehheeem romantic sekali mereka.</p>
<p>Seorang lagi membaca koran sendiri disana hanya mengenakan celana dalam sambil menikmati angin pantai sepoi-sepoi meniupi tubuhnya yang sedikit berbulu di dada. Jadi inget nih ama cerita yang dikirim lewat email oleh seorang temen beberapa waktu lalu, dan tidak sengaja saya temukan si sebuah blog seseorang, cerita ini tentang pria bule yang sedang berjemur di pantai pasir putih.</p>
<p>Cerita ini berjudul: gadis kecil dan burung pipit</p>
<p>Begini ceritanya:</p>
<p>Suatu pagi yang cerah di saat matahari baru menunjukkan sinarnya, Seorang pemuda bule yang baru selesai menikmati malamnya panjang sambil ditemani minuman beralkohol disampingnya…. Mabuk lagi….. Berjemur dipantai tanpa busana sama sekali sambil membaca koran walau setengah teller. Tiba-tiba seorang anak gadis kecil seusia 6 tahun terlihat berjalan melewatinya, dia pun menutup bagian tertentu tubuhnya dengan koran yang sedang dia baca.</p>
<p>Karena heran, anak gadis kecil itu berkata: “Apa sih yang Oom tutupi dengan koran itu ?” tanya gadis kecil itu polos sambil menunjuk koran. Karena malu, pemuda itu menjawab: “Ah tidak ada apa-apa dik. Itu hanya seekor burung pipit.” “Seekor burung pipit??” tanya gadis itu penasaran.</p>
<p><a href="http://balihoteltours.files.wordpress.com/2007/10/nusadua-bali03.jpg"><img class="alignleft" src="http://balihoteltours.files.wordpress.com/2007/10/nusadua-bali03.jpg" alt="" width="313" height="235" /></a>Setelah gadis kecil itu pergi berlalu, si pemuda kembali membaca koran sambil menenggak botol minuman kerasnya. Tak lama kemudian, si pemuda pun tertidur.</p>
<p>Ketika terbangun, Pemuda terkejut mendapati dirinya berada di rumah sakit dan merasa nyeri yang amat sangat. Sampai tak tertahan rasanya. “adaaaaawwwwuuuhhh” teriaknya.</p>
<p>Seorang polisi menanyainya: “Apa yang terjadi?”</p>
<p>“Saya tidak tahu. Saya sedang berjemur di pantai, lalu ada gadis kecil menanyai saya sebentar dan tidak lama setelah dia pergi, saya tertidur dan kini tiba-tiba berada di sini.”</p>
<p>Polisi itu segera pergi ke pantai mencari gadis kecil dan bertanya: “Apa yang kamu lakukan terhadap lelaki yang sedang berjemur ?”</p>
<p>Gadis kecil itu menjawab: “Saya tidak melakukan apa-apa terhadap Om itu. “Cuma waktu dia tidur, saya main dengan burung pipit miliknya tapi….. tidak lama kemudian, burung itu meludahi muka saya, karena itu saya patahkan leher dan paruhnya, saya pecahkan telur-telurnya dan saya bakar sarangnya !”</p>
<p>Polisi: “?!?!?!?!” ^..^!</p>
<p>Pesan yang saya tangkap dari tulisan ini:</p>
<p>-          Salah satu kerugian minum alcohol….. burungmu bisa terbakar</p>
<p>-          Jangan biarkan anak gadis anda main burung sendiri di pantai apalagi dengan orang yang tidak dikenal</p>
<p>-          Jangan minum alcohol sambil telanjang dan baca koran</p>
<p>-          Ingat! ganti kata burung dengan cacing karena anak gadis takut ama cacing…kalo lebih besar dari cacing boleh pakai belut…atau cacing raksasa agar lebih seram….</p>
<p>Heheeeeee just a joke (^..^)V</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/06/jalan-di-pantai-nusa-dua-burung-pipit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merendah Itu Ternyata Indah</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/05/merendah-itu-ternyata-indah/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/05/merendah-itu-ternyata-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 12:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[arak bali]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakasanaan]]></category>
		<category><![CDATA[kick andy]]></category>
		<category><![CDATA[merendah]]></category>
		<category><![CDATA[merendah itu indah]]></category>
		<category><![CDATA[pulau bali]]></category>
		<category><![CDATA[renon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Menonton Kick Andy kemarin malam membuat hati sedikit hilang kegundahannya. Menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus dicapai dengan memperoleh kedudukan dan kekayaan tapi alangkah lebih baik bila kebahagiaan itu diperoleh dari kepuasaan menolong orang lain. Seperti yang dikatakan gede Prama di acara ini, sementara politikus kita berebut kedudukan untuk membahagiakan dirinya, namun dipinggiran sana ada ibu-ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://www.atlastours.net"><img class="alignleft" src="http://www.atlastours.net/jordan/dead_sea_sunset.jpg" alt="" width="329" height="228" /></a>Menonton Kick Andy kemarin malam membuat hati sedikit hilang kegundahannya. Menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus dicapai dengan memperoleh kedudukan dan kekayaan tapi alangkah lebih baik bila kebahagiaan itu diperoleh dari kepuasaan menolong orang lain. Seperti yang dikatakan gede Prama di acara ini, sementara politikus kita berebut kedudukan untuk membahagiakan dirinya, namun dipinggiran sana ada ibu-ibu yang mendapatkan kebahabiaannya dengan secara sukarela mengajarkan ibu-ibu buta aksara untuk belajar membaca dan menulis. Benar-benar tipe kebahagiaan yang berbeda.<span id="more-336"></span></p>
<p class="MsoNormal">Saya jadi ingat dengan cerita kebijaksanaan yang ditulis Bapak Gede Prama ini yang bercerita tentang kerendahan hati menjadi jalan hidup. Saya sengaja mengutipnya beberapa tahun lalu.</p>
<p class="MsoNormal">MERENDAH ITU INDAH<br />
Posted by Gede Blue on 2004-09-15</p>
<p class="MsoNormal">Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja : bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.</p>
<p>Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, &#8217;seperti sentimen, benci, dan sejenisnya &#8216;, menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, <a href="http://creagrus.home.montereybay.com/"><img class="alignright" src="http://creagrus.home.montereybay.com/FurSea_N-MMeyers-9Fb03.jpg" alt="" width="319" height="221" /></a>mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif &#8217;sabar, tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya&#8217; menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang memerlukannya.</p>
<p>Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi demikian. Penyelesaian persoalan manapun &#8216;termasuk persoalan perburuhan ala Shangrila&#8217; bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.</p>
<p>Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif, kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.</p>
<p>Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai pengkondisian yang mematikan.</p>
<p>Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang membuatnya demikian, karena laut berani merendah.</p>
<p>Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian untuk merendah.</p>
<p>Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : &#8216;kita bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati&#8217;.</p>
<p>by Gede Prama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/05/merendah-itu-ternyata-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bali Island is My Home</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2008/09/bali-island-is-my-home/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2008/09/bali-island-is-my-home/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 13:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[bali history]]></category>
		<category><![CDATA[protect bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Bali is the island where I was born. until now Bali still the best island that i ever know. This is a little about history of Bali. I hope you will love bali island like I love it, and protect this island. This information I take from Wikipedia.org
 
 
Bali is an Indonesian island located at 8°25’25”S [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bali is the island where I was born. until now Bali still the best island that i ever know.</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">This is a little about history of Bali. I hope you will love bali island like I love it, and protect this island.</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">This information I take from</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> <a href="http://wikipedia.org">Wikipedia.org</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://i114.photobucket.com/albums/n267/suarka_rijasa/BALI/Gambar15.jpg" alt="" width="229" height="171" /><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bali is an <a title="Indonesia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Indonesian</span></a> <a title="Island" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Island"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">island</span></a> located at 8°25’25”S 115°14’55”E the westernmost of the <a title="Lesser Sunda Islands" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lesser_Sunda_Islands"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Lesser Sunda Islands</span></a>, lying between <a title="Java (island)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Java_%28island%29"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Java</span></a> to the west and <a title="Lombok" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lombok"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Lombok</span></a> to the east. It is one of the country&#8217;s 33 <a title="Provinces of Indonesia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Provinces_of_Indonesia"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">provinces</span></a> with the provincial capital at <a title="Denpasar" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Denpasar"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Denpasar</span></a> towards the south of the island.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">With a population recorded as 3,151,000 in 2005, the island is home to the vast majority of Indonesia&#8217;s small <a title="Hindu" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hindu"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Hindu</span></a> minority. 93.18% of Bali&#8217;s population adheres to <a title="Hinduism in Indonesia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hinduism_in_Indonesia"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Balinese Hinduism</span></a>, while most of the remainder follow Islam. It is also the largest <a title="Tourism" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tourism"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">tourist</span></a> destination in the country and is renowned for its highly developed arts, including dance, sculpture, painting, leather, <a title="Metalworking" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Metalworking"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">metalworking</span></a> and <a title="Balinese music" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Balinese_music"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">music</span></a>.</span><span id="more-53"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bali was inhabited by <a title="Austronesian peoples" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Austronesian_peoples"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Austronesian peoples</span></a> by about 2,000 BCE who migrated originally from <a title="Taiwan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Taiwan"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Taiwan</span></a> through <a title="Maritime Southeast Asia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maritime_Southeast_Asia"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Maritime Southeast Asia</span></a>. Culturally and linguistically, the Balinese are thus closely related to the peoples of the Indonesian archipelago, the Philippines, and Oceania. Stone tools dating from this time have been found near the village of Cekik in the island&#8217;s west.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Balinese culture was strongly influenced by Indian and Chinese, and particularly <a title="Hindu" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hindu"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Hindu</span></a> culture, in a process beginning around the 1st century AD. The name <a title="Balidwipa (page does not exist)" href="http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Balidwipa&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Balidwipa</span></a> has been discovered from various inscriptions, including the <a title="Blanjong (page does not exist)" href="http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Blanjong&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Blanjong</span></a> charter issued by <a title="Sri Kesari Warmadewa (page does not exist)" href="http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Sri_Kesari_Warmadewa&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Sri Kesari Warmadewa</span></a> in 913 AD and mentioning <a title="Walidwipa (page does not exist)" href="http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Walidwipa&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Walidwipa</span></a>. It was during this time that the complex irrigation system <em><a title="Subak (irrigation)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subak_%28irrigation%29"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">subak</span></a></em> was developed to grow rice. Some religious and cultural traditions still in existence today can be traced back to this period. The Hindu <a title="Majapahit Empire" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Majapahit_Empire"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Majapahit Empire</span></a> (1293–1520 AD) on eastern <a title="Java (island)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Java_%28island%29"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Java</span></a> founded a Balinese <a title="Colony" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Colony"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">colony</span></a> in 1343. When the empire declined, there was an exodus of intellectuals, artists, priests and musicians from Java to Bali in the 15th century.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">The first <a title="European ethnic groups" href="http://en.wikipedia.org/wiki/European_ethnic_groups"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">European</span></a> contact with Bali is thought to have been made by <a title="Netherlands" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Dutch</span></a> explorer <a title="Cornelis de Houtman" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cornelis_de_Houtman"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Cornelis de Houtman</span></a> who arrived in 1597, though a <a title="Portugal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Portugal"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Portuguese</span></a> ship had foundered off the <a title="Bukit Peninsula" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bukit_Peninsula"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Bukit Peninsula</span></a> as early as 1585. Dutch colonial control was expanded across the Indonesian archipelago in the nineteenth century. Their political and economic control over Bali began in the 1840s on the island&#8217;s north coast by playing various distrustful Balinese realms against each other. In the late 1890s, struggles between Balinese kingdoms in the island&#8217;s south were exploited by the Dutch to increase their control. The Dutch mounted large naval and ground assaults at the Sanur region in 1906 and were met by the thousands of members of the royal family and their followers who marched to certain death against superior Dutch force in a suicidal <em>puputan</em> defensive assault rather than face the humiliation of surrender.<sup><span style="color: #000000;"> </span></sup>Despite Dutch demands for surrender, an estimated 4,000 Balinese marched to their death against the invaders. In 1908, a similar massacre occurred in the face of a Dutch assault in <a title="Klungkung" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Klungkung"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Klungkung</span></a>. Afterwards the Dutch governors were able to exercise little influence over the island, and local control over religion and culture generally remained intact.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Dutch rule over Bali had come later and was never as well established as in other parts of Indonesia such as Java and <a title="Maluku Islands" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maluku_Islands"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Maluku</span></a>. <a title="Imperial Japan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Imperial_Japan"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Imperial Japan</span></a> occupied Bali during <a title="World War II" href="http://en.wikipedia.org/wiki/World_War_II"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">World War II</span></a> during which time a Balinese military officer, Gusti Ngurah Rai, formed a Balinese &#8216;freedom army&#8217;. In the 1930s, anthropologists <a title="Margaret Mead" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Margaret_Mead"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Margaret Mead</span></a> and <a title="Gregory Bateson" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gregory_Bateson"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Gregory Bateson</span></a>, and artists <a title="Miguel Covarrubias" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Miguel_Covarrubias"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Miguel Covarrubias</span></a> and <a title="Walter Spies" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Walter_Spies"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Walter Spies</span></a>, and musicologist <a title="Colin McPhee" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Colin_McPhee"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Colin McPhee</span></a> created a western image of Bali as &#8220;an enchanted land of aesthetes at peace with themselves and nature&#8221;, and western tourism first developed on the island.<sup><span style="color: #000000;"> </span></sup>Following Japan&#8217;s Pacific surrender in August 1945, the Dutch promptly returned to Indonesia, including Bali, immediately to reinstate their pre-war colonial administration. This was resisted by the Balinese rebels now using Japanese weapons. On <a title="November 20" href="http://en.wikipedia.org/wiki/November_20"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">20 November</span></a> <a title="1946" href="http://en.wikipedia.org/wiki/1946"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">1946</span></a>, the <a title="Battle of Marga (page does not exist)" href="http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Battle_of_Marga&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Battle of Marga</span></a> was fought in Tabanan in central Bali. Colonel I Gusti Ngurah Rai, 29 years old, finally rallied his forces in east Bali at Marga Rana, where they made a <a title="Suicide attack" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide_attack"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">suicide attack</span></a> on the heavily armed Dutch. The Balinese battalion was entirely wiped out, breaking the last thread of Balinese military resistance. In 1946 the Dutch constituted Bali as one of the 13 administrative districts of the newly-proclaimed <a title="Republic of East Indonesia (page does not exist)" href="http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Republic_of_East_Indonesia&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Republic of East Indonesia</span></a>, a rival state to the Republic of Indonesia which was proclaimed and headed by <a title="Sukarno" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Sukarno</span></a> and <a title="Mohammad Hatta" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Hatta</span></a>. Bali was included in the &#8220;Republic of the United States of Indonesia&#8221; when the Netherlands recognised Indonesian independence on <a title="December 29" href="http://en.wikipedia.org/wiki/December_29"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">29 December</span></a> <a title="1949" href="http://en.wikipedia.org/wiki/1949"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">1949</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">The 1963 eruption of <a title="Mount Agung" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Agung"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Mount Agung</span></a> killed thousands, created economic havoc and forced many displaced Balinese to be <a title="Transmigration program" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Transmigration_program"><em><span style="color: #000000; text-decoration: none;">transmigrated</span></em></a> to other parts of Indonesia. Mirroring the widening of social divisions across Indonesia in the 1950s and early 1960s, Bali saw conflict between supporters of the traditional <a title="Caste system" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Caste_system"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">caste system</span></a>, and those rejecting these traditional values. Politically, this was represented by opposing supporters of the <a title="Indonesian Communist Party" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Communist_Party"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Indonesian Communist Party</span></a> (PKI) and the <a title="Indonesian Nationalist Party" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Nationalist_Party"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Indonesian Nationalist Party</span></a> (PNI), with tensions and ill-feeling further increased by the PKI&#8217;s land reform programs.<sup><span style="color: #000000;"> </span></sup><a title="30 September Movement" href="http://en.wikipedia.org/wiki/30_September_Movement"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">An attempted coup</span></a> in Jakarta was put down by forces led by General Suharto. The army became the dominant power as it instigated <a title="Indonesian killings of 1965–66" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_killings_of_1965%E2%80%9366"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">a violent anti-communist purge</span></a>, in which the army blamed the PKI for the coup. Most estimates suggest that at least 500,000 people were killed across Indonesia, with an estimated 80,000 killed in Bali, equivalent to 5 per cent of the island&#8217;s population.<sup><span style="color: #000000;"> </span></sup>With no Islamic forces involved as in Java and Sumatra, upper-caste PNI landlords led the extermination of PKI members.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">As a result of the 1965/66 upheavals, Suharto was able to manoeuvre Sukarno <a title="Transition to the New Order" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Transition_to_the_New_Order"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">out of the presidency</span></a>, and his <a title="New Order (Indonesia)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/New_Order_%28Indonesia%29"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">&#8220;New Order&#8221;</span></a> government reestablished relations with western countries. The Bali as a tourist paradise which was instigated during the pre World War II colonial time was revised in a modern form, and the resulting large growth in tourism has led to Balinese standards of living rise dramatically and significant foreign exchange earned for the country.<a title="2002 Bali bombings" href="http://en.wikipedia.org/wiki/2002_Bali_bombings"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">A bombing in 2002</span></a> by militant <a title="Islamist" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islamist"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Islamists</span></a> in the tourist area of <a title="Kuta" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kuta"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">Kuta</span></a> killed 202 people, mostly foreigners. This attack, and <a title="2005 Bali bombings" href="http://en.wikipedia.org/wiki/2005_Bali_bombings"><span style="color: #000000; text-decoration: none;">another in 2005</span></a>, severely affected tourism, bringing much economic hardship to the island.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2008/09/bali-island-is-my-home/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

