<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>imadeharyoga.com &#187; anestesi</title>
	<atom:link href="http://imadeharyoga.com/tag/anestesi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imadeharyoga.com</link>
	<description>my name is made haryoga, one from a millions family doctor in denpasar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Mar 2011 13:44:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Anestesi pada Laparoscopy cholecystectomy</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2008/09/45/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2008/09/45/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 13:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[health: kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[anestesi]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kolesistektomi]]></category>
		<category><![CDATA[laparoskopi]]></category>
		<category><![CDATA[pemasangan vena central]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan laparoskopi]]></category>
		<category><![CDATA[Tugas FK UNUD]]></category>
		<category><![CDATA[universitas udayana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Dewasa ini penyakit batu empedu (cholelitiasis) yang terbatas pada kantung empedu biasanya asimtomatis dan menyerang 10 – 20 % populasi umum di dunia. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan ultrasonografi abdomen.1 Kira-kira 20% wanita dan 10 % pria usia 55 sampai 65 tahun memiliki batu empedu.2 
Cholesistektomi diindikasikan pada pasien simtomatis yang terbukti menderita penyakit batu empedu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Dewasa ini penyakit batu empedu (cholelitiasis) yang terbatas pada kantung empedu biasanya asimtomatis dan menyerang 10 – 20 % populasi umum di dunia. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan ultrasonografi abdomen.<sup>1</sup> Kira-kira 20% wanita dan 10 % pria usia 55 sampai 65 tahun memiliki batu empedu.<sup>2</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><a href="http://www.laparoscopicsurgeryinfo.com/images/gallbladder.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.laparoscopicsurgeryinfo.com/images/gallbladder.jpg" alt="" width="450" height="330" /></a><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Cholesistektomi diindikasikan pada pasien simtomatis yang terbukti menderita penyakit batu empedu (cholelitiasis). Indikasi laparoskopi untuk Cholesistektomi sama dengan indikasi open Cholesistektomi.<sup><span>3</span></sup> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="FI">Karena teknik minimal invasif memiliki aplikasi diagnosis dan terapi di banyak pembedahan, bedah laparoskopi meningkat penggunaannya baik pada pasien rawat inap ataupun rawat jalan.</span><span id="more-45"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="FI"> Walaupun prosedur laparoskopi memiliki keuntungan untuk pasien, namun prosedur ini juga merupakan tantangan untuk spesialis anestesi.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;">Teknik laparoskopi atau pembedahan minimal invasif diperkirakan menjadi <em>trend</em> bedah masa depan. Bahkan pada 2010 mendatang, sekitar 70-80 persen tindakan operasi di negara-negara maju akan menggunakan teknik ini. Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di awal 1990-an ketika tim dari RS Cedar Sinai California AS mengadakan <em>live demo</em> di RS Husada Jakarta. Selang setahun kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan batu dan kantung empedu (<em>Laparoscopic Cholecystectomy</em>) yang pertama. Sejak 1997, <em>Laparoscopic Cholecystectomy</em> menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu di beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. <sup>5</sup></span></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Pada laparoskopi cholesistektomi, jenis anestesi yang direkomendasikan adalah anestesi umum dengan intubasi endotrakeal dengan antibiotic profilaksis preoperatif untuk mengatasi pathogen empedu. </span><strong></strong></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;">
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Laparoskopi </span></strong></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Definisi Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;">Laparoskopi adalah sebuah prosedur pembedahan <em>minimally invasive</em> dengan memasukkan gas </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">CO<sub>2</sub><span style="color: black;"> ke dalam rongga peritoneum untuk membuat ruang antara dinding depan perut dan organ viscera, sehingga memberikan akses endoskopi ke dalam rongga peritoneum tersebut.<sup>7 </sup>Teknik laparoskopi atau pembedahan <em>minimally invasive</em> diperkirakan menjadi <em>trend</em> bedah masa depan. Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di awal 1990-an ketika tim dari RS Cedar Sinai California AS mengadakan <em>live demo</em> di RS Husada Jakarta. Selang setahun kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan batu dan kantung empedu (<em>Laparoscopic Cholecystectomy</em>) yang pertama. Sejak 1997, <em>Laparoscopic Cholecystectomy</em> menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu di beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. <sup>5</sup></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;">Prosedur Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Prosedur praoperasi laparoskopi hampir sama dengan operasi konvensional. Pasien harus puasa empat hingga enam jam sebelumnya, dibuat banyak buang air besar agar ususnya mengempis. Sebelum puasa pasien laparoskopi diberikan makanan cair atau bubur, makanan yang mudah diserap, tapi rendah sisa, untuk mengurangi jumlah kotoran di saluran cerna.<sup>8</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Setelah pasien teranestesi, tindakan operasi pertama yang dilakukan adalah membuat sayatan di bawah lipatan pusar sepanjang 10 mm, kemudian jarum <em>veres</em> disuntikkan untuk memasukkan gas CO<sub>2</sub> sampai batas kira-kira 12-15 milimeter Hg. Dengan pemberian gas CO<sub>2</sub> itu, perut pasien akan menggembung. Itu bertujuan agar usus tertekan ke bawah dan menciptakan ruang di dalam perut. Setelah perut terisi gas CO<sub>2</sub>, alat <em>trocar</em> dimasukkan. Alat itu seperti pipa dengan klep untuk akses kamera dan alat-alat lain selama pembedahan. Ada empat <em>trocar</em> yang dipasang di tubuh. Pertama, terletak di pusar. Kedua, kira-kira letaknya 2-4 cm dari tulang dada (antara dada dan pusar) selebar 5-10 mm. <em>Trocar</em> ketiga dipasang di pertengahan <em>trocar</em> kedua agak ke sebelah kanan (di bawah tulang iga), selebar 2-3 atau 5 mm. <em>Trocar</em> keempat, bilamana diperlukan, akan dipasang di sebelah kanan bawah, selebar 5 mm. Melalui <em>trocar</em> inilah alat-alat, seperti gunting, pisau ultrasonik, dan kamera, dimasukkan dan digerakkan. <em>Trocar</em> pertama berfungsi sebagai &#8216;mata&#8217; dokter, yaitu tempat dimasukkannya kamera. Dokter akan melihat organ-organ tubuh kita dan bagian yang perlu dibuang melalui kamera tersebut yang disalurkan ke monitor. Sementara itu, <em>trocar</em> kedua sampai keempat merupakan <em>trocar</em> kerja.<sup>8</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Dalam tayangan video terlihat bagaimana jarum untuk menjahit organ-organ yang dipotong atau mengalami pendarahan dimasukkan melalui <em>trocar</em>. Selain itu, ada pula klip-klip dari titanium, yang aman dan bisa digunakan sebagai ganti jahitan. Klip itu berfungsi menyambungkan dua bagian yang terpisah. Klip dari titanium akan dipasang dalam tubuh secara permanen, seumur hidup. Sebelumnya, dokter harus mengatakan kepada pasien dan keluarganya kalau ada benda asing yang akan ditinggalkan di dalam tubuh pasien.<sup>8</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Posisi peralatan juga penting untuk diperhatikan agar mudah untuk dilihat oleh semua operator karena menggunakan berbagai peralatan penunjang. Operator harus melihat jelas video monitor dan pengaliran insuflasi CO2 sehingga dia bisa memonitor tekanan intra abdomen dan laju gas.<em> <sup>3</sup></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Penggunaan Gas CO<sub>2 </sub>dalam Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>CO<sub>2</sub> adalah gas pilihan untuk insuflasi karena tidak mudah terbakar, tidak membantu pembakaran, mudah berdifusi melewati membrane, mudah keluar dari paru-paru, mudah larut dalam darah dan risiko embolisasi CO<sub>2 </sub>kecil. Level CO<sub>2</sub> dalam darah mudah diukur, dan pengeluarannya dapat ditambah dengan memperbanyak ventilasi. Selama persediaan O<sub>2 </sub>cukup, konsentrasi CO<sub>2</sub> darah dapat ditolelir.<sup>7</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>Kerugian utamanya adalah fakta bahwa CO<sub>2</sub> lembam. Hal ini menyebabkan iritasi peritoneal langsung dan rasa sakit selama laparoskopi karena CO<sub>2</sub> membentuk asam karbonat saat kontak dengan permukaan peritoneum. CO<sub>2</sub> tidak terlalu larut pada darah bila terjadi kekurangan sel darah merah, oleh karena itu CO<sub>2 </sub>bisa tersisa di intraperitoneum dalam bentuk gas setelah laparoskopi, sehingga menyebabkan sakit pada bahu. Hiperkarbia dan <em>respiratory acidosis</em> terjadi saat kapasitas CO<sub>2</sub> dalam darah melampaui batas. Selain itu, CO<sub>2 </sub>dapat menimbulkan efek lokal maupun sistemik, sehingga dapat terjadi hipertensi, takikardi, vasodilatasi pembuluh darah serebral, peningkatan CO, hiperkarbi, dan <em>respiratory acidosis.</em><sup>7</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Keuntungan Prosedur Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Dibandingkan dengan bedah terbuka, laparoskopi lebih menguntungkan karena insisi yang kecil dan nyeri pasca operasi yang lebih ringan. Fungsi paru pasca operasi tidak terganggu dan sedikit kemungkinan terjadi atelektasis setelah prosedur laparoskopi. Setelah operasi fungsi pencernaan pasien pulih lebih cepat, masa rawat inap rumah sakit pendek, serta lebih cepat kembali beraktivitas. Keuntungan ini bervariasi tergantung pasien dan tipe prosedur.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Kerugian Prosedur Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Komplikasi selama prosedur laparoskopi dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung karena kebutuhan insuflasi CO<sub>2</sub> untuk membuat ruang operasi. CO<sub>2</sub> masuk kedalam pembuluh darah secara cepat. Gas yang tidak larut terakumulasi didalam jantung kanan menyebabkan hipotensi dan <em>cardiac arrest</em>. Emboli CO<sub>2</sub><sup> </sup>yang masif bisa dideteksi dengan murmur precordial, <em>transesofugeal echocardiografi</em>, dan <em>end tidal</em> CO<sub>2</sub> monitoring (CO<sub>2</sub> meningkat secara sementara kemudian turun kembali). Pengobatan dilakukan dengan menghentikan insuflasi CO<sub>2</sub>, hiperventilasi dengan 100% O<sub>2</sub> dan resusitasi cairan, merubah posisi pasien <em>right side up</em> dan memasang kateter vena central untuk aspirasi gas.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Jika gas yang ditujukan untuk membuat pneumoperitoneum keluar atau prosedur laparoskopi meliputi insuflasi ekstra peritoneal (prosedur untuk adrenalectomy atau perbaikan hernia) emfisema subkutan bisa terjadi, volume tidal CO<sub>2</sub> akhir (<em>end tidal</em> CO<sub>2</sub>) meningkat mencapai level tinggi dan terdapat krepitus yang biasanya dapat sembuh tanpa intervensi. Hal serius lain adalah pneumothorak, jika gas masuk ke dalam rongga thorax melalui luka atau insisi yang dibuat sewaktu pembedahan atau dari jaringan cervikal subkutan. Intervensi tidak selalu harus, karena pneumothorax biasanya pulih jika insuflasi dihentikan.<sup>4</sup></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Respon Fisiologi Selama Bedah Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Goncangan hemodinamik dan ventilasi dapat terjadi pada pasien yang menjalani prosedur laparoskopi. Penyebab utama perubahan fisiologis pada prosedur laparoskopi ini adalah insuflasi CO<sub>2. </sub>Insuflasi CO<sub>2 </sub>ke dalam rongga peritoneum menyebabkan terjadinya pneumoperitoneum yang bermanfaat untuk visualisasi selama prosedur laparoskopi. Insuflasi CO<sub>2</sub> ini juga meningkatkan tekanan intraabdomen dan meningkatkan resistensi pembuluh darah sehingga curah jantung menjadi turun sementara tekanan darah meningkat. Posisi pasien bisa merubah respon ini. Pada saat posisi tredelenburg penurunan preload dan peningkatan afterload tidak terlalu mencolok dibandingkan posisi anti tredelenburg.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Selama prosedur Laparoskopi, efek respirasi yang disebabkan oleh insuflasi CO<sub>2 </sub>memegang peranan utama. Setelah insiflasi CO<sub>2 </sub>terjadi hiperkapnia selama beberapa menit dimana kenaikan CO<sub>2</sub> biasanya mencapai 30%, namun keadaan ini akan menjadi stabil kembali selama satu jam sewaktu operasi. Hiperkapnia ini dapat menimbulkan stimulasi simpatis dan berpotensi untuk terjadi disritmia dan respiratori asidosis. Hal ini dapat dikoreksi dengan meningkatkan ventilasi. Pengaruh tambahan dari pneumoperitoneum adalah efek mekanik dari peningkatan tekanan intra abdomen yang menyebabkan penurunan <em>pulmonary compliance</em> dan kapasitas residu fungsional <span> </span>serta peningkatan <em>dead space.</em><sup>4</sup></span></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;">
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Laparoskopi Cholesistektomi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><a href="https://services.epnet.com/GetImage.aspx/getImage.aspx?ImageIID=2846"><img class="alignleft" src="https://services.epnet.com/GetImage.aspx/getImage.aspx?ImageIID=2846" alt="" width="398" height="253" /></a><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Cholesistektomi diindikasikan pada pasien simtomatis yang terbukti menderita penyakit batu empedu (cholelitiasis). Indikasi laparoskopi untuk Cholesistektomi sama dengan indikasi open Cholesistektomi.<sup><span>3</span></sup> Keuntungan melakukan prosedur laparoskopi pada cholesistektomi yaitu: l</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">aparoscopic cholesistektomi menggabungkan manfaat dari penghilangan gallblader dengan singkatnya lama tinggal di rumah sakit, cepatnya pengembalian kondisi untuk melakukan aktivitas normal, rasa sakit yang sedikit karena torehan yang kecil dan terbatas, dan kecilnya kejadian ileus pasca operasi dibandingkan dengan teknik open laparotomi. Namun kerugiannya, trauma saluran empedu lebih umum terjadi setelah laparoskopi dibandingkan dengan open cholesistektomi dan bila terjadi pendarahan perlu dilakukan laparotomi.<sup>9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Kontra indikasi pada </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Laparoskopi cholesistektomi antara lain: penderita ada resiko tinggi untuk anestesi umum; penderita dengan <em>morbid obesity</em>; ada tanda-tanda perforasi seperti abses, peritonitis, fistula; batu kandung empedu yang besar atau curiga keganasan kandung empedu; dan hernia diafragma yang besar. <sup>3</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></sup></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Manajemen Anestesi pada Laparoskopi</span></strong></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Pemilihan jenis anestesi memperhatikan beberapa faktor, antara lain : umur, jenis kelamin, status fisik, jenis operasi, ketrampilan operator dan peralatan yang dipakai, ketrampilan/kemampuan pelaksana anestesi dan sarananya, status rumah sakit, dan permintaan pasien. Saat ini sekitar 70-75 % operasi pada rumah sakit, dilakukan di bawah anestesi umum (<em>general anesthesia</em>). Operasi sekitar kepala, leher, dada, dan abdomen sangat baik dilakukan dengan anestesi umum inhalasi dengan pemasangan pipa endotrakheal, sejak diketahui bahwa dengan metode ini jalan nafas dapat dikontrol dengan baik sepanjang waktu.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Anestesi regional tidak digunakan rutin pada prosedur laparoskopi, karena iritasi yang mengenai<span> </span>diafragma dari insuflasi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">CO<sub>2.</sub></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV"> bisa menyebabkan sakit pada pundak, ditambah lagi waktu penyembuhan untuk pengembalian fungsi yang lengkap bisa lama. Dengan lidocaine dosis rendah dan teknik spinal opioid, salah satu studi menemukan bahwa nyeri pasca operasi setelah laparoskopi ginekologi lebih sedikit dibandingkan dengan general anestesi dengan desflurane.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Evaluasi Preoperasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Secara umum sebelum memulai anestesi, dilakukan terlebih dulu anamnesis dan pemeriksaan fisik. Karena perubahan tekanan hemodinamik dan respirasi terjadi pada pasien selama prosedur laparoskopi, evaluasi sebelum operasi difokuskan untuk mengidentifikasi pasien dengan penyakit paru berat dan gangguan fungsi jantung.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Manajemen Intraoperatif.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Pasien biasanya menjalani prosedur laparoskopi dengan anestesi umum dengan menggunakan monitor standar. Pengukuran tekanan darah noninvasive dan kapnografi penting untuk mengikuti efek hemodinamik dan pneumoperitoneum pada respirasi dan perubahan posisi. Dalam situasi tertentu, monitor pengukuran tekanan arteri sebaiknya dilakukan. Indikasi tindakan monitor tekanan arteri secara invasif antara lain: penyakit paru berat, end tidal CO<sub>2.</sub> arteri yang sangat tinggi, dan fungsi ventrikel yang menurun. Sama halnya dengan monitor pengukuran tekanan vena sentral, pemasangan kateter arteri paru atau transesofageal echocardiografi bisa berguna untuk pasien dengan gangguan fungsi jantung atau hipertensi paru.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Akses untuk memasukkan obat secara intravena harus memadai pada prosedur laparoskopi, seperti pada keadaan kehilangan darah. Akses untuk memasukkan obat secara intravena yang adekuat adalah kunci dari resusitasi cairan yang tepat untuk keadaan pendarahan yang tidak terkontrol atau emboli gas. Akses ke vena sentral harus dipertimbangkan pada pasien dengan gangguan vena perifer.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Untuk mencegah aspirasi paru dan menjaga jalan nafas, perlu pemasangan pipa endotrakeal. Pemasangan sebuah pipa orogastrik atau nasogastrik setelah jalan nafas dikuasai dapat mengurangi tekanan udara lambung, menurunkan resiko kerusakan gaster, dan memperbaiki visualisasi selama operasi. Pada saat tekanan intraabdomen meningkat karena pneumoperitoneum, pipa endotracheal dapat digunakan untuk memberikan tekanan ventilasi yang positif untuk mencegah hipoksemia dan untuk mengekskresikan kelebihan CO<sub>2</sub> yang diabsorbsi. Pneumoperitoneum dapat menyebabkan perubahan posisi pipa endotrakeal pada pasien dengan trakea yang pendek, dimana ketika carina bergerak ke atas pipa endotrakeal bisa masuk ke salah satu bronkus, sehingga memasang pipa endotrakeal sebaiknya pada pertengahan trakea dan disarankan untuk lebih sering mengecek posisi pipa endotrakeal pada pasien.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Obat anestesi yang digunakan biasanya berupa <em>volatile agent</em>, opioid intravena, dan obat pelumpuh otot. Ada studi yang mengatakan bahwa N<sub>2</sub>O sebaiknya dihindari selama prosedur laparoskopi karena ini akan meningkatkan pelebaran usus dan resiko mual pasca operasi. Penggunaan klinis N<sub>2</sub>O ini masih menjadi perdebatkan.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Selama prosedur laparoskopi, pasien biasanya diposisikan Trendelenburg atau Reverse Trendelenburg. Trauma saraf pada pasien sebaiknya dihindari dengan mengamankan dan membantali seluruh ekstremitas. T</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">ekanan pernafasan bisa meningkat dengan perubahan posisi dan ventilasi, biasanya butuh penyesuaian.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Dua tujuan utama selama pemeliharaan pasien selama bedah laparoskopi dengan anestesi umum adalah menjaga agar tetap normokapnia dan mencegah ketidakseimbangan hemodinamik. Hiperkapnia biasanya berawal beberapa menit setelah insuflasi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">CO<sub>2.</sub></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">. Untuk menormalkan kembali </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">CO<sub>2</sub> ini</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">, ventilasi ditingkatkan biasanya dengan meningkatkan RR (<em>respiratory rate</em>) dengan volume tidal yang tetap. Jika hiperkapnia memburuk, misalnya pada kasus sulit prosedur bedah diubah menjadi prosedur bedah terbuka. <sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Perubahan hemodinamik harus diantisipasi dan dimanajemen selama prosedur laparoskopi. Jika tekanan darah meningkat maka pemberian kadar obat anestesi inhalasi dapat ditingkatkan dan dapat ditambahkan dengan pemberian obat seperti nitropusside (nitropusside menyebabkan reflek tackikardi, berpotensi untuk menimbulkan keracunan sianida), esmolol, atau calcium channel blocker. Pengobatan dengan alpha agonist seperti clonidine atau dexmedetomidine adalah strategy lain (alpha agonist dapat menyebabkan penurunan MAC untuk anestesi inhalasi, berpotensi menjadi bradikardi). Walaupun pasien yang sehat dapat mentoleransi perubahan hemodinamik, namun pasien dengan fungsi jantung yang buruk bisa dipengaruhi menjadi lebih buruk. Hal ini dapat dicegah dengan penggunaan monitor secara invasif (<em>arterial line, central line, transesofageal ochocardiografi</em>) selama prosedur berlangsung.<sup>1</sup></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Manajemen Pasca Operasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Pada ruang pemulihan pasca anestesi, hiperkapnia bisa tetap terjadi selama 45 menit setelah prosedur selesai.<sup>1</sup> Insiden mual muntah pasca operasi laparoskopi dilaporkan cukup tinggi yaitu mencapai 42%.<sup>7 </sup>Mual muntah pasca operasi setelah prosedur laparoskopi dipengaruhi oleh tipe dari prosedur, sisa dari pneumoperitoneum, dan karakteristik pasien. Beberapa obat baik itu tunggal maupun dalam kombinasi untuk mencegah dan mengobati komplikasi ini meliputi metoclopramide, ondansentron, dan dexamethasone. Untuk menurunkan insiden mual dan muntah pasca operasi dapat dilakukan dengan meminimalkan dosis opioid dan mempertimbangkan pemberian propofol untuk anestesi. Karena banyak prosedur laparoskopi direncanakan pada pasien rawat jalan, evaluasi pada saat pasien akan pulang juga diperlukan.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="SV">Penggunaan analgetik setelah prosedur laparoskopi umumnya lebih sedikit dibandingkan dengan sesudah bedah terbuka. Modalitas penggunaan analgesik harus menghilangkan nyeri yang bisa terjadi karena insisi, visceral, atau akibat gas residu dan pneumoperitoneum. Manajemen nyeri diawali sebelum atau selama prosedure pembedahan. Pemberian opioid intravena (fentanyl, morfine) dalam kombinasi dengan NSAID intravena membantu agar pasien nyaman pada akhir dari prosedur. Infiltrasi dari anestesi lokal, seperti bupivacaine pada <em>port sites </em>kulit dan peritoneum memblock nyeri somatik dan visceral.<sup>1</sup></span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="SV">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><!--[endif]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Morgan GE, Mikhail MS, J.Murray M., Clinical Anesthesiology 4<sup>th </sup>edition. McGraw Hill. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">New York</span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">. 2006.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Sdrales, Loraine M., Miller, R D., Anesteshia Review: A Study Guide to Anesthesia, fifth edition and basic of anesthesia forth edition. Churchill Livingstone, </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">USA</span><!--[if !supportLists]--><!--[endif]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">. 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Zollinger, Robert M., Zollinger’s Atlas of Surgical Operations 8<sup>th</sup> edition, international edition: McGraw Hill. United State Of </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">America</span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">. 2003</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[endif]--><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Cole, D.J., Schlunt, M., Adult Perioperative Anesthesia: The Requisites in Anesthesiology. Mosby. 2004<span><span> </span></span></span></p>
<p class="contenthead1" style="text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[endif]--><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Anonynim, Laparoskopi Cikal Bakal Bedah Masa Depan<span> </span>available:<span style="text-decoration: underline;"> <a href="http://www.kompas.com/LaparoskopiCikalBakalBedahMasaDepan.asp">http://www.kompas.com/LaparoskopiCikalBakalBedahMasaDepan.asp</a></span><span> </span>(Accessed: 2008, January 22)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[endif]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="IN">“Major Classification of Anesthetic Agents”. ( 200</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">7</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="IN">, </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">april 15 </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="IN">– last update). Available: <a href="http://images.google.com.hk/blockspinal">http://images.google.com.hk/blockspinal</a> (accessed : 200</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">8</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="IN">, </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">january 15</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;" lang="IN">)</span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[endif]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Yao</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">, F.S.F, Artusio, Anesthesiology, Problem Oriented Patient Management. Lippincott Williams and </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Wilkins</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">, </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">USA</span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">. 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[endif]--><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Errawan, Laparoscopyc surgery<span> </span>available:<span style="text-decoration: underline;"> <a href="http://www.mediaonline.com/Laparoscopyc%20surgery.asp">http://www.mediaonline.com/Laparoscopyc surgery.asp</a></span><span> </span>(Accessed: 2008, January 22)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:left;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[endif]--><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Barash, P.G., Cullen, B.F., Stoelting, R.K., Handbook of Clinical Anesthesia, 4<sup>th </sup>edition. Lippincott Williams and </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">Wilkins</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">, </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">USA</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;">. 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2008/09/45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

