<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>imadeharyoga.com &#187; Heart Sound</title>
	<atom:link href="http://imadeharyoga.com/category/heart-sound/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imadeharyoga.com</link>
	<description>my name is made haryoga, one from a millions family doctor in denpasar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Mar 2011 13:44:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bukan “BENCANA” tapi “RENCANA”</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2010/10/bukan-%e2%80%9cbencana%e2%80%9d-tapi-%e2%80%9crencana%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2010/10/bukan-%e2%80%9cbencana%e2%80%9d-tapi-%e2%80%9crencana%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 08:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[back to nature]]></category>
		<category><![CDATA[cintai lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMANUSIAKAN ALAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[“Alam tidak pernah jahat” mungkin itulah yang bisa dirangkum dari apa yang ada dalam tulisan ini.
Tahun-tahun terakhir ini sangat terasa keadaan dimana kejadian-kejadian alam semakin banyak terjadi di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. Ada gunung meletus yang merusak ekonomi manusia, ada banjir yang menenggelamkan ribuan rumah, ada kebakaran yang membakar hutan dan rumah manusia, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Alam tidak pernah jahat” mungkin itulah yang bisa dirangkum dari apa yang ada dalam tulisan ini.</p>
<p>Tahun-tahun terakhir ini sangat terasa keadaan dimana kejadian-kejadian alam semakin banyak terjadi di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. Ada gunung meletus yang merusak ekonomi manusia, ada banjir yang menenggelamkan ribuan rumah, ada kebakaran yang membakar hutan dan rumah manusia, ada angin topan, ada tsunami, ada kekeringan, ada serangan hama yang menggagalkan hasil panen, ada kecelakaan pesawat terbang, ada kecelakaan kereta api, ada pula penyakit yang tiba-tiba mewabah dan memakan korban jiwa. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua hal ini kita sebut sebagai bencana.</p>
<p>“Bencana alam” begitu biasanya kita menyebutnya. Bukan kesalahan manusia tetapi memang murni karena alam.</p>
<p>Apakah memang benar seperti itu?</p>
<p>Kenapa alam jahat kepada kita? Apakah alam bisa jahat?</p>
<p>Ada baiknya kita melihat apa yang telah kita lakukan kepada alam, sebut saja contohnya penambahan daratan di sebuah pulau kecil di Bali telah menyebabkan perubahan arus dan abrasi di bagian lain pulau. Begitu juga penambahan bangunan tanpa mengindahkan keseimbangan penanaman pohon akan meningkatkan suhu bumi yang menimbulkan pemanasan global. Kurang disiplinnya masyarakat membuang sampah pada tempatnya membuat terjadinya banjir dan jebolnya tanggul-tanggul. Adanya bangunan-bangunan pada lahan-lahan penyerap air menimbulkan longsor. Pengurasan air tanah dan berkurangnya pohon-pohon penyerap air tanah menyebabkan goyahnya daratan tentunya akan menyebabkan pergerakan tanah seperti yang terjadi di Jakarta. Pengeboran minyak bumi dan gas alam tentunya juga akan berpengaruh pada keseimbangan komponen bumi lainnya. Alam berusaha melakukan perubahan penyeimbangan diri karena adanya perubahan-perubahan yang dilakukan manusia. Segala perubahan yang dilakukan di sebuah belahan bumi akan berakibat pada belahan bumi lainnya. Semuanya terkoneksi karena kita ada dalam sebuah lingkaran atau bola besar yang kita sebut sebagai Bumi.</p>
<p>Apakah alam jahat? Sepertinya Alam hanya menjalankan sebuah rencana penyeimbangan atas apa yang telah dlakukan oleh manusia. Seorang Tokoh Suci dulu pernah berbicara bahwa &#8220;alam tidak pernah jahat&#8230;. Banjir, topan, kebakaran, longsor, tsunami, gempa bumi semua adalah sebuah “Rencana” alam… bukan “Bencana” alam.&#8221; Rencana alam terhadap semua hal yang dilakukan manusia terhadap alam. Semua untuk mencapai keseimbangan.</p>
<p>Ada baiknya kita kembali ke nasehat para leluhur kita untuk “memanusiakan alam”. Alam dianggap sebagai manusia. Alam dicintai seperti layaknya manusia. Alam diperlakukan sama seperti manusia. Alam adalah saudara kita.</p>
<p>Bila hal ini tidak dilakukan&#8230;. mungkin kita akan menjadi salah satu manusia yang ikut terlebur dalam rencana-rencana alam.</p>
<p>Namun bila ALAM senang.. kita pun akan hidup tenang. “Back to nature”</p>
<p>‘haryoga’</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2010/10/bukan-%e2%80%9cbencana%e2%80%9d-tapi-%e2%80%9crencana%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secuil Pemikiran &#8230;”Perlu Aturan Baru tentang Rabies dan VAR di Bali.”</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2010/09/secuil-pemikiran-%e2%80%9dperlu-aturan-baru-tentang-rabies-dan-var-di-bali-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2010/09/secuil-pemikiran-%e2%80%9dperlu-aturan-baru-tentang-rabies-dan-var-di-bali-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 12:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[health: kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[anjing gila]]></category>
		<category><![CDATA[penanggulangan rabies]]></category>
		<category><![CDATA[rabies]]></category>
		<category><![CDATA[vaksin rabies]]></category>
		<category><![CDATA[varorab langka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Sudah berbulan-bulan pulau tercinta kita ini dilanda masalah penyakit rabies. Perlu kita ketahui bahwa penyakit rabies memang sangat berbahaya dan menyebabkan kematian. Seperti virus demam berdarah, virus rabies juga dapat menular, namun tidak melalui air liur nyamuk melainkan melalui air liur hewan bertaring (Morsum Canis) yaitu: ANJING, KUCING, dan KERA. Apakah anda memelihara salah satunya?
Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah berbulan-bulan pulau tercinta kita ini dilanda masalah penyakit rabies. Perlu kita ketahui bahwa penyakit rabies memang sangat berbahaya dan menyebabkan kematian. Seperti virus demam berdarah, virus rabies juga dapat menular, namun tidak melalui air liur nyamuk melainkan melalui air liur hewan bertaring (Morsum Canis) yaitu: ANJING, KUCING, dan KERA. Apakah anda memelihara salah satunya?</p>
<p>Di Bali, di pulau yang indah ini, ada kebiasaan penduduk sejak jaman dulu memelihara anjing sebagai penjaga rumah. Anjing dibiarkan berkeliaran baik pagi, siang maupun malam. Anjing biasanya tidak dikurung, maupun tidak diikat. Tidak jarang anjing dapat membuat enggan pencuri maupun perampok masuk ke rumah kita. Bahkan anjing dapat membuat pencuri lari tunggang langgang, melewati parit dan terkapar jatuh di sungai. Tidak heran dalam satu rumah di Bali kita menemui  4 sampai 5 anjing peliharaan berlarian kesana sini. Namun apakah mereka peduli dengan kesehatan anjing-anjingnya? Jangankan membelikan vaksin untuk anjing, kadang pemiliknya sakit pun belum tentu ke dokter untuk berobat..hehee</p>
<p>Kondisi ini tentunya merupakan salah satu faktor penyebab sulitnya pemberantasan rabies di Bali. Selain juga faktor-faktor yang lain.</p>
<p>Permasalah VAR (VARORAB) atau vaksin anti rabies yang belakangan ini terus muncul banyak di media massa seolah menceritakan bahwa pemerintah propinsi bali maupun pemerintah kabupaten kurang peduli dengan permasalahan ini. Kelangkaan vaksin di rumah sakit-rumah sakit daerah, dan kejadian gigitan anjing terus saja bergulir tanpa ada tanda-tanda penurunan, membuat masyarakat resah dan kadang emosi dibuatnya.</p>
<p>Namun kalo coba kita lihat kembali, pemerintah propinsi Bali ternyata sudah mengeluarkan jumlah dana yang tidaklah kecil untuk pembelian vaksin antirabies (Varorab) ini. Anjing-anjing pun sudah hampir semua di vaksin (vaksin mati.. heeehee), namun tetap saja kasus gigitan hewan bertaring yang memerlukan vaksin bermunculan disana sini. Pemberitaan kematian karena rabies terus kita temui di media masa. Lalu sampai kapan akan seperti ini? Sampai anjing-anjing dibali semuanya dimusnahkan? Atau sampai dana pemerintah habis hanya untuk membeli Varorab? Atau sampai…sampai nanti…?</p>
<p>Dibalik upaya pengadaan vaksin ini apakah terjadi penurunan “daya pemeliharaan” masyarakat terhadap hewan bertaring ini khususnya anjing? Bisa kita lihat ke rumah-rumah penduduk di Bali, tetap saja banyak anjing berkeliaran tanpa Kalung (tanda sudah divaksin rabies). Bisa dibilang peran masyarakat Bali belum maksimal untuk bersama-sama menanggulangi masalah rabies dan kelangkaan Var ini.</p>
<p>Perlu dibuatkan aturan baru yang resmi dan juga aturan adat yang mengikat tentang pemeliharaan hewan bertaring ini, khususnya ATURAN MEMELIHARA ANJING.</p>
<p>Menurut saya, aturan yang paling penting adalah: siapa yang memelihara, maka dialah yang harus ikut bertanggung jawab.</p>
<p>Aturan harus jelas. Bila terjadi gigitan maka pemilik anjing harus bertanggung jawab dalam pembelian varorab maupun pengobatannya. Bila tidak ada pemiliknya maka Banjar atau Desa yang memiliki wilayah dimana anjing itu bernaunglah yang bertanggung jawab membiayai pengobatan dan vaksinnya sampai tuntas. Jadi pemerintah tidak usah menggratiskan lagi varorab, atau mungkin hanya perlu memberikan diskon untuk pembelian var di Rumah Sakit pemerintah.</p>
<p>Dengan adanya aturan yang mengikat pemilik dan Banjar atau Desa tersebut, maka akan muncul rasa tanggung jawab masyarakat dan banjar serta desa-desa di Bali terhadap anjing-anjing di wilayahnya sehingga menekan jumlah anjing liar maupun populasi anjing secara umum yang berisiko menularkan rabies di Pulau Bali tercinta ini.</p>
<p>Dilain pihak pemerintah harus terus memantau perkembangan populasi anjing dan selalu siap memberikan vaksin gratis untuk anjing-anjing dan hewan bertaring lainnya ke pelosok-pelosok desa dibali. Sehingga seluruh anjing dibali mendapatkan vaksin.</p>
<p>Mungkin dengan cara ini rabies tidak bisa diberantas sampai 100%, namun setidaknya akan menghemat pengeluaran pemerintah dan yang lebih penting lagi, dapat memupuk kesadaran masyarakat Bali untuk ikut berperan dalam penanggulangan Rabies dan lebih mencintai Anjing-anjing Bali.</p>
<p>‘Haryoga’</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2010/09/secuil-pemikiran-%e2%80%9dperlu-aturan-baru-tentang-rabies-dan-var-di-bali-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah surat dari sahabat</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2010/04/sebuah-surat-dari-sahabat/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2010/04/sebuah-surat-dari-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[arti sebuah senyum]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>
		<category><![CDATA[surat dari sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[

Adalah isi sepucuk surat dari sahabat lama&#8230; seorang  sahabat yang hampir saya tinggalkan.
“Sahabatku
Aku ingat…
kau pernah bilang aku adalah sahabatmu yang paling istimewa
namun engkau sering memandangku hanya dengan sebelah mata
namun tahu kah engkau… banyak hal yang belum engkau ketahui dariku….
Aku memiliki rahasia dari banyak hal
Aku sendiri adalah rahasia dari banyak hal
Aku adalah rahasia dari kecantikan seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Adalah isi sepucuk surat dari sahabat lama&#8230; seorang  sahabat yang hampir saya tinggalkan.</p>
<p>“Sahabatku</p>
<p>Aku ingat…</p>
<p>kau pernah bilang aku adalah sahabatmu yang paling istimewa</p>
<p>namun engkau sering memandangku hanya dengan sebelah mata</p>
<p>namun tahu kah engkau… banyak hal yang belum engkau ketahui dariku….</p>
<p>Aku memiliki rahasia dari banyak hal</p>
<p>Aku sendiri adalah rahasia dari banyak hal</p>
<p>Aku adalah rahasia dari kecantikan seorang wanita</p>
<p>Aku juga adalah syarat kenapa seorang pria disebut tampan</p>
<p>Jika engkau suka padaku maka engkau bisa punya banyak sahabat</p>
<p>Saat aku pergi darimu orang-orang pun enggan bicara padamu</p>
<p>Ingatlah selalu… saat bercermin tanpaku kecantikan wanita akan sirna ketampanan pria akan pudar.</p>
<p>Bermimpilah bersamaku maka saat engkau bangun tubuhmu akan terasa lebih ringan</p>
<p>Lalui harimu bersamaku maka harimu akan cerah selalu</p>
<p>Saat memulai harimu ingatlah aku</p>
<p>Saat engkau mandi ingatlah padaku</p>
<p>Saat mulai mencicipi makanan ingatlah aku</p>
<p>Saat bekerja ingatlah aku</p>
<p>Saat tidur&#8230; tidurlah bersamaku</p>
<p>Bahkan saat sakit ingatlah kepadaku</p>
<p>Lalui doamu bersamaku</p>
<p>Maka aku akan selalu bersamamu</p>
<p>Menemani hari harimu, membuat hari burukmu menjadi lebih indah</p>
<p>Membuat hidupmu lebih bahagia</p>
<p>Dan.. membuat hidupmu lebih lama… untuk berbuat sesuatu yang lebih indah…</p>
<p>Sahabat karibmu</p>
<p>“<strong>Senyum</strong>”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2010/04/sebuah-surat-dari-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di saat Nusantara Penuh Kekacauan : Ramalan Jayabaya</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2010/02/di-saat-nusantara-penuh-kekacauan-ramalan-jayabaya/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2010/02/di-saat-nusantara-penuh-kekacauan-ramalan-jayabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 12:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[Love : Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan hindu]]></category>
		<category><![CDATA[majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[RAMALAN JAYABAYA]]></category>
		<category><![CDATA[ratu adil]]></category>
		<category><![CDATA[sabda palon]]></category>
		<category><![CDATA[titisan wisnu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan terakhir ini begitu banyak hal2 buruk terjadi dinegeri ini, musim hujan yang datang tidak pada waktu biasanya, banjir, kebakaran, gempa, pembunuhan, kecelakaan, perzinahan, pemerkosaan, bayi yang terbuang, dan berbagai macam peristiwa yang tidak enak didengar begitu banyak terjadi. Kepercayaan kepada eksekutuif, legislatif,yudikatif, dan lembaga lain pun menurun, tidak tahu yang mana yang bersih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan terakhir ini begitu banyak hal2 buruk terjadi dinegeri ini, musim hujan yang datang tidak pada waktu biasanya, banjir, kebakaran, gempa, pembunuhan, kecelakaan, perzinahan, pemerkosaan, bayi yang terbuang, dan berbagai macam peristiwa yang tidak enak didengar begitu banyak terjadi. Kepercayaan kepada eksekutuif, legislatif,yudikatif, dan lembaga lain pun menurun, tidak tahu yang mana yang bersih, jujur, berjuang demi rakyat, dan yang mana yang penipu dan pengambil hak rakyat. Semua seperti bercampur aduk&#8230;</p>
<p>Ada yang berpikir bahwa hari kiamat sudah dekat, ada yang berpikir inilah kemajuan jaman, ada juga yang berpikir bahwa manusia sudah mulai meninggalkan jati dirinya sebagai manusia yang di lahirkan berbekal kasih.</p>
<p>apakah kasih sayang manusia kepada alam, kasih sayang manusia kepada sesama manusia, kasih sayang manusia kepada pencipta sudah mulai luntur?</p>
<p>Apakah manusia sudah mulai melupakan asal usulnya? Apakah manusia mulai lupa para leluhurnya? jika itu benar-benar terjadi maka keungkinan besar kita sedang berada di awal jaman kehancuran sesuai ramalan JoyoBoyo (ramalan Jayabaya). (Prabu Jayabaya pada saat pemerintahannya dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu)</p>
<p>Mari kita lihat kutipan dibawah ini. Percaya atau tidak percaya setidaknya kita sedang membaca sebuah karya seni yang dibuat oleh leluhur kita.</p>
<p>INILAH BAIT TERAKHIR RAMALAN JAYABAYA</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>140.<br />
<em>polahe wong Jawa kaya gabah diinteri<br />
endi sing bener endi sing sejati<br />
para tapa padha ora wani<br />
padha wedi ngajarake piwulang adi<br />
salah-salah anemani pati</em></p>
<p>tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi<br />
mana yang benar mana yang asli<br />
para pertapa semua tak berani<br />
takut menyampaikan ajaran benar<br />
salah-salah dapat menemui ajal</p>
<p>141.<br />
<em>banjir bandang ana ngendi-endi<br />
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni<br />
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni<br />
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti</em></p>
<p>banjir bandang dimana-mana<br />
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu<br />
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur<br />
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya</p>
<p>142.<br />
<em>pancen wolak-waliking jaman<br />
amenangi jaman edan<br />
ora edan ora kumanan<br />
sing waras padha nggagas<br />
wong tani padha ditaleni<br />
wong dora padha ura-ura<br />
beja-bejane sing lali,<br />
isih beja kang eling lan waspadha</em></p>
<p>sungguh zaman gonjang-ganjing<br />
menyaksikan zaman gila<br />
tidak ikut gila tidak dapat bagian<br />
yang sehat pada olah pikir<br />
para petani dibelenggu<br />
para pembohong bersuka ria<br />
beruntunglah bagi yang lupa,<br />
masih beruntung yang ingat dan waspada</p>
<p>143.<br />
<em>ratu ora netepi janji<br />
musna kuwasa lan prabawane<br />
akeh omah ndhuwur kuda<br />
wong padha mangan wong<br />
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan<br />
dirasa enak kaya roti bolu<br />
yen wengi padha ora bisa turu </em></p>
<p>raja tidak menepati janji<br />
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya<br />
banyak rumah di atas kuda<br />
orang makan sesamanya<br />
kayu gelondongan dan besi juga dimakan<br />
katanya enak serasa kue bolu<br />
malam hari semua tak bisa tidur</p>
<p>144.<br />
<em>sing edan padha bisa dandan<br />
sing ambangkang padha bisa<br />
nggalang omah gedong magrong-magrong</em></p>
<p>yang gila dapat berdandan<br />
yang membangkang semua dapat<br />
membangun rumah, gedung-gedung megah</p>
<p>145.<br />
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes<br />
akeh wong mati kaliren gisining panganan<br />
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara</p>
<p>orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habis<br />
banyak orang mati kelaparan di samping makanan<br />
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara</p>
<p>146.<br />
<em>wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil<br />
sing ora abisa maling digethingi<br />
sing pinter duraka dadi kanca<br />
wong bener sangsaya thenger-thenger<br />
wong salah sangsaya bungah<br />
akeh bandha musna tan karuan larine<br />
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe</em></p>
<p>orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil<br />
yang tidak dapat mencuri dibenci<br />
yang pintar curang jadi teman<br />
orang jujur semakin tak berkutik<br />
orang salah makin pongah<br />
banyak harta musnah tak jelas larinya<br />
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab</p>
<p>147.<br />
<em>bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret<br />
sakilan bumi dipajeki<br />
wong wadon nganggo panganggo lanang<br />
iku pertandhane yen bakal nemoni<br />
wolak-walike zaman</em></p>
<p>bumi semakin lama semakin sempit<br />
sejengkal tanah kena pajak<br />
wanita memakai pakaian laki-laki<br />
itu pertanda bakal terjadinya<br />
zaman gonjang-ganjing</p>
<p>148.<br />
<em>akeh wong janji ora ditepati<br />
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe<br />
manungsa padha seneng ngalap,<br />
tan anindakake hukuming Allah<br />
barang jahat diangkat-angkat<br />
barang suci dibenci</em></p>
<p>banyak orang berjanji diingkari<br />
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri<br />
manusia senang menipu<br />
tidak melaksanakan hukum Allah<br />
barang jahat dipuja-puja<br />
barang suci dibenci</p>
<p>149.<br />
<em>akeh wong ngutamakake royal<br />
lali kamanungsane, lali kebecikane<br />
lali sanak lali kadang<br />
akeh bapa lali anak<br />
akeh anak mundhung biyung<br />
sedulur padha cidra<br />
keluarga padha curiga<br />
kanca dadi mungsuh<br />
manungsa lali asale</em></p>
<p>banyak orang hamburkan uang<br />
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan<br />
lupa sanak saudara<br />
banyak ayah lupa anaknya<br />
banyak anak mengusir ibunya<br />
antar saudara saling berbohong<br />
antar keluarga saling mencurigai<br />
kawan menjadi musuh<br />
manusia lupa akan asal-usulnya</p>
<p>150.<br />
<em>ukuman ratu ora adil<br />
akeh pangkat jahat jahil<br />
kelakuan padha ganjil<br />
sing apik padha kepencil<br />
akarya apik manungsa isin<br />
luwih utama ngapusi</em></p>
<p>hukuman raja tidak adil<br />
banyak yang berpangkat, jahat dan jahil<br />
tingkah lakunya semua ganjil<br />
yang baik terkucil<br />
berbuat baik manusia malah malu<br />
lebih mengutamakan menipu</p>
<p>151.<br />
<em>wanita nglamar pria<br />
isih bayi padha mbayi<br />
sing pria padha ngasorake drajate dhewe</em></p>
<p>wanita melamar pria<br />
masih muda sudah beranak<br />
kaum pria merendahkan derajatnya sendiri</p>
<p><strong><em>Bait 152 sampai dengan 156 tidak ada (hilang dan rusak)</em></strong></p>
<p>157.<br />
<em>wong golek pangan pindha gabah den interi<br />
sing kebat kliwat, sing kasep kepleset<br />
sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik<br />
sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati<br />
nanging sing ngawur padha makmur<br />
sing ngati-ati padha sambat kepati-pati</em></p>
<p>tingkah laku orang mencari makan seperti gabah ditampi<br />
yang cepat mendapatkan, yang lambat terpeleset<br />
yang besar beramai-ramai membuat yang kecil terjepit<br />
yang angkuh menengadah, yang takut malah mati<br />
namun yang ngawur malah makmur<br />
yang berhati-hati mengeluh setengah mati</p>
<p>158.<br />
<em>cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendring<br />
melu Jawa sing padha eling<br />
sing tan eling miling-miling<br />
mlayu-mlayu kaya maling kena tuding<br />
eling mulih padha manjing<br />
akeh wong injir, akeh centhil<br />
sing eman ora keduman<br />
sing keduman ora eman</em></p>
<p>cina berlindung karena dilempari lari terbirit-birit<br />
ikut orang Jawa yang sadar<br />
yang tidak sadar was-was<br />
berlari-lari bak pencuri yang kena tuduh<br />
yang tetap tinggal dibenci<br />
banyak orang malas, banyak yang genit<br />
yang sayang tidak kebagian<br />
yang dapat bagian tidak sayang</p>
<p>159.<br />
<em>selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun<br />
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu<br />
bakal ana dewa ngejawantah<br />
apengawak manungsa<br />
apasurya padha bethara Kresna<br />
awatak Baladewa<br />
agegaman trisula wedha<br />
jinejer wolak-waliking zaman<br />
wong nyilih mbalekake,<br />
wong utang mbayar<br />
utang nyawa bayar nyawa<br />
utang wirang nyaur wirang</em></p>
<p>selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun<br />
(sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)<br />
akan ada dewa tampil<br />
berbadan manusia<br />
berparas seperti Batara Kresna<br />
berwatak seperti Baladewa<br />
bersenjata trisula wedha<br />
tanda datangnya perubahan zaman<br />
orang pinjam mengembalikan,<br />
orang berhutang membayar<br />
hutang nyawa bayar nyawa<br />
hutang malu dibayar malu</p>
<p>160.<br />
<em>sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa<br />
ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener<br />
lawase pitung bengi,<br />
parak esuk bener ilange<br />
bethara surya njumedhul<br />
bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur<br />
iku tandane putra Bethara Indra wus katon<br />
tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa</em></p>
<p>sebelumnya ada pertanda bintang pari<br />
panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur<br />
lamanya tujuh malam<br />
hilangnya menjelang pagi sekali<br />
bersama munculnya Batara Surya<br />
bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut<br />
itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak<br />
datang di bumi untuk membantu orang Jawa</p>
<p>161.<br />
<em>dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan<br />
wetane bengawan banyu<br />
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca<br />
arupa pagupon dara tundha tiga<br />
kaya manungsa angleledha</em></p>
<p>asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur<br />
sebelah timurnya bengawan<br />
berumah seperti Raden Gatotkaca<br />
berupa rumah merpati susun tiga<br />
seperti manusia yang menggoda</p>
<p>162.<br />
<em>akeh wong dicakot lemut mati<br />
akeh wong dicakot semut sirna<br />
akeh swara aneh tanpa rupa<br />
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis<br />
tan kasat mata, tan arupa<br />
sing madhegani putrane Bethara Indra<br />
agegaman trisula wedha<br />
momongane padha dadi nayaka perang<br />
perange tanpa bala<br />
sakti mandraguna tanpa aji-aji</em></p>
<p>banyak orang digigit nyamuk,<br />
mati banyak orang digigit semut, mati<br />
banyak suara aneh tanpa rupa<br />
pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar<br />
tak kelihatan, tak berbentuk<br />
yang memimpin adalah putra Batara Indra,<br />
bersenjatakan trisula wedha<br />
para asuhannya menjadi perwira perang<br />
jika berperang tanpa pasukan<br />
sakti mandraguna tanpa azimat</p>
<p>163.<br />
<em>apeparap pangeraning prang<br />
tan pokro anggoning nyandhang<br />
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang<br />
sing padha nyembah reca ndhaplang,<br />
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang</em></p>
<p>bergelar pangeran perang<br />
kelihatan berpakaian kurang pantas<br />
namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak<br />
yang menyembah arca terlentang<br />
cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan</p>
<p>164.<br />
<em>putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu<br />
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti<br />
mumpuni sakabehing laku<br />
nugel tanah Jawa kaping pindho<br />
ngerahake jin setan<br />
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo<br />
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda<br />
landhepe triniji suci<br />
bener, jejeg, jujur<br />
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong</em></p>
<p>putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu<br />
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti<br />
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)<br />
memotong tanah Jawa kedua kali<br />
mengerahkan jin dan setan<br />
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu<br />
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda<br />
tajamnya tritunggal nan suci<br />
benar, lurus, jujur<br />
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong</p>
<p>165.<br />
<em>pendhak Sura nguntapa kumara<br />
kang wus katon nembus dosane<br />
kadhepake ngarsaning sang kuasa<br />
isih timur kaceluk wong tuwa<br />
paringane Gatotkaca sayuta</em></p>
<p>tiap bulan Sura sambutlah kumara<br />
yang sudah tampak menebus dosa<br />
dihadapan sang Maha Kuasa<br />
masih muda sudah dipanggil orang tua<br />
warisannya Gatotkaca sejuta</p>
<p>166.<br />
<em>idune idu geni<br />
sabdane malati<br />
sing mbregendhul mesti mati<br />
ora tuwo, enom padha dene bayi<br />
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada<br />
garis sabda ora gentalan dina,<br />
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira<br />
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa<br />
nanging inung pilih-pilih sapa</em></p>
<p>ludahnya ludah api<br />
sabdanya sakti (terbukti)<br />
yang membantah pasti mati<br />
orang tua, muda maupun bayi<br />
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi<br />
garis sabdanya tidak akan lama<br />
beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya<br />
tidak mau dihormati orang se tanah Jawa<br />
tetapi hanya memilih beberapa saja</p>
<p>167.<br />
<em>waskita pindha dewa<br />
bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira<br />
pindha lahir bareng sadina<br />
ora bisa diapusi marga bisa maca ati<br />
wasis, wegig, waskita,<br />
ngerti sakdurunge winarah<br />
bisa pirsa mbah-mbahira<br />
angawuningani jantraning zaman Jawa<br />
ngerti garise siji-sijining umat<br />
Tan kewran sasuruping zaman</em></p>
<p>pandai meramal seperti dewa<br />
dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda<br />
seolah-olah lahir di waktu yang sama<br />
tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati<br />
bijak, cermat dan sakti<br />
mengerti sebelum sesuatu terjadi<br />
mengetahui leluhur anda<br />
memahami putaran roda zaman Jawa<br />
mengerti garis hidup setiap umat<br />
tidak khawatir tertelan zaman</p>
<p>168.<br />
<em>mula den upadinen sinatriya iku<br />
wus tan abapa, tan bibi, lola<br />
awus aputus weda Jawa<br />
mung angandelake trisula<br />
landheping trisula pucuk<br />
gegawe pati utawa utang nyawa<br />
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan<br />
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda</em></p>
<p>oleh sebab itu carilah satria itu<br />
yatim piatu, tak bersanak saudara<br />
sudah lulus weda Jawa<br />
hanya berpedoman trisula<br />
ujung trisulanya sangat tajam<br />
membawa maut atau utang nyawa<br />
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain<br />
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan</p>
<p>169.<br />
<em>sirik den wenehi<br />
ati malati bisa kesiku<br />
senenge anggodha anjejaluk cara nistha<br />
ngertiyo yen iku coba<br />
aja kaino<br />
ana beja-bejane sing den pundhuti<br />
ateges jantrane kaemong sira sebrayat</em></p>
<p>pantang bila diberi<br />
hati mati dapat terkena kutukan<br />
senang menggoda dan minta secara nista<br />
ketahuilah bahwa itu hanya ujian<br />
jangan dihina<br />
ada keuntungan bagi yang dimintai<br />
artinya dilindungi anda sekeluarga</p>
<p>170.<br />
<em>ing ngarsa Begawan<br />
dudu pandhita sinebut pandhita<br />
dudu dewa sinebut dewa<br />
kaya dene manungsa<br />
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh<br />
gawang-gawang terang ndrandhang</em></p>
<p>di hadapan Begawan<br />
bukan pendeta disebut pendeta<br />
bukan dewa disebut dewa<br />
namun manusia biasa<br />
bukan kekuatan lain diterangkan jelas<br />
bayang-bayang menjadi terang benderang</p>
<p>171.<br />
<em>aja gumun, aja ngungun<br />
hiya iku putrane Bethara Indra<br />
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan<br />
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh<br />
hiya siji iki kang bisa paring pituduh<br />
marang jarwane jangka kalaningsun<br />
tan kena den apusi<br />
marga bisa manjing jroning ati<br />
ana manungso kaiden ketemu<br />
uga ana jalma sing durung mangsane<br />
aja sirik aja gela<br />
iku dudu wektunira<br />
nganggo simbol ratu tanpa makutha<br />
mula sing menangi enggala den leluri<br />
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu<br />
beja-bejane anak putu</em></p>
<p>jangan heran, jangan bingung<br />
itulah putranya Batara Indra<br />
yang sulung dan masih kuasa mengusir setan<br />
turunnya air brajamusti pecah memercik<br />
hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk<br />
tentang arti dan makna ramalan saya<br />
tidak bisa ditipu<br />
karena dapat masuk ke dalam hati<br />
ada manusia yang bisa bertemu<br />
tapi ada manusia yang belum saatnya<br />
jangan iri dan kecewa<br />
itu bukan waktu anda<br />
memakai lambang ratu tanpa mahkota<br />
sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,<br />
jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh<br />
keberuntungan ada di anak cucu</p>
<p>172.<br />
<em>iki dalan kanggo sing eling lan waspada<br />
ing zaman kalabendu Jawa<br />
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa<br />
cures ludhes saka braja jelma kumara<br />
aja-aja kleru pandhita samusana<br />
larinen pandhita asenjata trisula wedha<br />
iku hiya pinaringaning dewa</em></p>
<p>inilah jalan bagi yang ingat dan waspada<br />
pada zaman kalabendu Jawa<br />
jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa<br />
yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga<br />
jangan keliru mencari dewa<br />
carilah dewa bersenjata trisula wedha<br />
itulah pemberian dewa</p>
<p>173.<br />
<em>nglurug tanpa bala<br />
yen menang tan ngasorake liyan<br />
para kawula padha suka-suka<br />
marga adiling pangeran wus teka<br />
ratune nyembah kawula<br />
angagem trisula wedha<br />
para pandhita hiya padha muja<br />
hiya iku momongane kaki Sabdopalon<br />
sing wis adu wirang nanging kondhang<br />
genaha kacetha kanthi njingglang<br />
nora ana wong ngresula kurang<br />
hiya iku tandane kalabendu wis minger<br />
centi wektu jejering kalamukti<br />
andayani indering jagad raya<br />
padha asung bhekti</em></p>
<p>menyerang tanpa pasukan<br />
bila menang tak menghina yang lain<br />
rakyat bersuka ria<br />
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba<br />
raja menyembah rakyat<br />
bersenjatakan trisula wedha<br />
para pendeta juga pada memuja<br />
itulah asuhannya Sabdopalon<br />
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur<br />
segalanya tampak terang benderang<br />
tak ada yang mengeluh kekurangan<br />
itulah tanda zaman kalabendu telah usai<br />
berganti zaman penuh kemuliaan<br />
memperkokoh tatanan jagad raya<br />
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi</p>
<div>***</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2010/02/di-saat-nusantara-penuh-kekacauan-ramalan-jayabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naik tidak perlu persiapan, namun turun perlu persiapan</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2010/01/naik-tidak-perlu-persiapan-namun-turun-perlu-persiapan/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2010/01/naik-tidak-perlu-persiapan-namun-turun-perlu-persiapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 13:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[kata kontroversial]]></category>
		<category><![CDATA[kata mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan naik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah kalimat yang kontroversial, “naik tidak perlu persiapan, turunlah yang perlu persiapan”. Kalimat ini pertama kali saya dengar dari seorang penceramah yang saya kagumi, Gede Prama. Benar atau tidaknya kalimat ini tergantung dari sudut mana kita mengartikannya.
Saat ini kebanyakan orang selalu berkeinginan melebihi orang lain, menjadi sesuatu yang lebih, menjadi sesuatu yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah sebuah kalimat yang kontroversial, “naik tidak perlu persiapan, turunlah yang perlu persiapan”. Kalimat ini pertama kali saya dengar dari seorang penceramah yang saya kagumi, Gede Prama. Benar atau tidaknya kalimat ini tergantung dari sudut mana kita mengartikannya.</p>
<p>Saat ini kebanyakan orang selalu berkeinginan melebihi orang lain, menjadi sesuatu yang lebih, menjadi sesuatu yang paling super, seperti pangkat yang tinggi, kedudukan yang tertinggi, uang yang banyak, rumah yang paling megah, dan banyak hal lainnya yang kita anggap akan memberikan kepuasan bathin kita. Bahkan secara tidak sengaja mempersiapkan diri untuk memiliki hidup yang penuh kemewahan ini. Tidak jarang banyak orang yang miskin pun memaksakan diri bergaya hidup mewah.</p>
<p>Seorang keryawan berangan-angan menjadi bos, seorang miskin berangan-angan menjadi kaya raya.</p>
<p>Namun saat telah mendapatkan kejayaan dan kemewahan itu, orang sering lupa mempersiapkan diri bila kelak bisa saja akan menjadi menderita dan segalanya tidak ada, atau segalanya tidak bisa, entah karena dimakan usia, atau mendapatkan kebangkrutan, atau bencana alam, atau gagal promosi, atau kegagalan-kegagalan yang lainnya.</p>
<p>Maka timbullah stess, cemas, depresi dan tidak jarang orang menjadi <em>konslet</em> dan menderita kelainan jiwa. Mendadak menjadi paranoid, atau bahkan menjadi tertawa-tertawa dan menangis sendiri serta menjadi gembel,hidup dalam dunianya sendiri ,seperti dunia kedokteran sebut sebagai Skizofrenia paranoid dan skizofrenia hebefrenik  (populernya disebut gila).</p>
<p>Tidak jarang seorang direktur suatu perusahaan besar menjadi depresi bahkan skizofrenia (gila) saat usia pensiunnya tiba. Banyak konglomerat yang mendadak bunuh diri saat bisnisnya gagal dan menderita kerugian yang besar.  Kebiasaan dilayani, kebiasaan memerintah, kebiasaan selalu diatas dan penuh kemewahan kadang membuat kita lupa mempersiapkan diri untuk turun menjadi orang yang tidak ada apa-apanya lagi. Menjadi orang yang tidak pernah diperhitungkan lagi….</p>
<p>Jadi ingat pasien saat coass dulu di lab. Psikiatri….. Saat seorang pelatih militer yang ditakuti anak buahnya pada masanya, kini tiba-tiba terserang depresi saat usia pensiunnya tiba, tidak ada lagi yang dibentak, tak ada lagi yang mempedulikannya karena mereka semua hanya hormat karena takut. Jelaslah bahwa bapak pensiunan ini tidak siap menghadapi usia-usia pensiunnya.</p>
<p>Kita semua siap saat di atas…namun saat kita di bawah tidak semua dari kita siap.</p>
<p>“naik tidak perlu persiapan, turun perlu persiapan”</p>
<p>Karena semua orang akan tiba saatnya menghadapi saat-saat TURUN kembali.</p>
<p>jadi ingat dengan nasehat orang tua &#8220;saat berjalan janganlah selalu menoleh keatas&#8230;. sesekali lihatlah kebawah&#8230; sehingga tidak tersandung&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2010/01/naik-tidak-perlu-persiapan-namun-turun-perlu-persiapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Bali, Memanusiakan Alam Lingkungan</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/12/budaya-bali-memanusiakan-alam-lingkungan/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/12/budaya-bali-memanusiakan-alam-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 12:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[bali yang aneh]]></category>
		<category><![CDATA[hindu siwa sidhanta]]></category>
		<category><![CDATA[memanusiakan lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di pulau Bali banyak hal yang aneh dan tidak biasa kita lihat disana. ini tentang kebiasaan orang – orang/penduduk asli Bali. Kadang bagi orang-orang yang tumben datang ke Bali terheran heran melihat adat istiadat orang Bali. Dan banyak muncul pertanyaan menggelitik yang keluar dari bibir para wisatawan kepada guidenya yang kadang guidenya pun tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup di pulau Bali banyak hal yang aneh dan tidak biasa kita lihat disana. ini tentang kebiasaan<a href="http://1.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTIFNxWLwI/AAAAAAAAACk/s1Ri4f3VGzY/s320/10092009%28009%29.jpg"><img class="alignright" src="http://1.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTIFNxWLwI/AAAAAAAAACk/s1Ri4f3VGzY/s320/10092009%28009%29.jpg" alt="" width="312" height="234" /></a> orang – orang/penduduk asli Bali. Kadang bagi orang-orang yang tumben datang ke Bali terheran heran melihat adat istiadat orang Bali. Dan banyak muncul pertanyaan menggelitik yang keluar dari bibir para wisatawan kepada guidenya yang kadang guidenya pun tidak dapat menjelaskan hal ini dengan gamblang.<span id="more-482"></span></p>
<p>Ada satu hal (diantara banyak hal lainnya) yang paling sering dilontarkan oleh wisatawan-wisatawan ini. Saat melihat pohon beringin dilingkari kain hitam putih (bahasa Bali: kamen/kamben poleng), begitu juga patung-patung dari kayu maupun batu dan pilar pun di pakaikan kain (bahasa Bali : kamen/kamben). Kenapa harus begitu? Pilar dan patung dari batu kok juga di pakaikan pakaian. Memang aneh!!!</p>
<p>Begitulah orang Bali…. Sejak dulu memang begitu… kalo orang Bali di tanya kebanyakan bilang “nak mule keto” artinya “memang begitu”. Tapi ternyata di dalam sana terdapat filsafat yang sangat tinggi yang memang sulit untuk dimengerti. Orang Bali dari dulu sering memberikan jawaban “nak mule keto” (memang begitu) adalah ada maknanya bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perlu kita juga ketahui bahwa Orang-orang jaman dulu memang memahami sesuatu dengan hati yang sangat mendalam sehingga sulit di lukiskan dengan kata-kata. Banyak hal yang memang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata….bahkan kalau dijelaskan dengan kata-kata akan memberikan makna yang membingungkan atau pengertian yang lain dari yang dimaksud… Dengan kata lain kita harus mencari jawabannya sendiri dengan hati kita. Namun sayangnya kita (orang-orang jaman sekarang) sangat jarang yang mampu menemukannya. Dan celakanya orang-orang jaman sekarang mengatakan kalimat “nak mule keto” bukan karena memahami hal yang “tidak terkatakan” itu, tapi semata-mata memang karena tidak tahu menahu tentang hal itu……:)</p>
<p>Kembali ke bahasan kenapa pilar, pohon beringin, patung, dll itu dipakaikan kain atau pakaian, semata-mata memang karena perinsip orang Bali sejak dulu, leluhur orang Bali, menurunkan tradisi yang mulia ini yaitu “memanusiakan alam lingkungan”. Semua hal di manusiakan, termasuk binatang, tumbuhan, dan benda mati disekelilingnya di manusiakan, atau disayangi seperti manusia, atau diperlakukan seperti manusia atau “diperlakukan seperti memperlakukan dirinya sendiri”.</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTNtLWdD5I/AAAAAAAAAC0/RP3Hf21k3vk/s320/Foto0143.jpg"><img class="alignleft" src="http://4.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTNtLWdD5I/AAAAAAAAAC0/RP3Hf21k3vk/s320/Foto0143.jpg" alt="" width="306" height="229" /></a>Sungguh suatu budaya yang luar biasa. Mencintai segala sesuatu didunia ini seperti mencintai dirinya sendiri. Itulah yang menjadi harapan nenek moyang/ leluhur/ pendahulu orang-orang Bali (tentunya bukan hanya leluhur orang-orang Bali saja yang menginginkan seperti itu). Inilah sebuah ajaran BUDI PEKERTI yang akan menyelamatkan kita dari kemarahan alam dan dunia ini. Karena kita mencintai alam lingkungan seperti diri sendiri maka alam juga akan mencintai manusia. Itulah kenapa ketentraman hidup di pulau Bali ini menggaung keseluruh dunia. Dunia mengakui keindahan Bali bukan karena gedung yang menjulang tinggi, bukan karena wanita-wanita seksi, bukan karena tempat untuk berjudi, tetapi karena adanya rasa cinta terhadap alam lingkungannya, budaya memanusiakan alam lingkunganlah yang membuat Bali menjadi terkenal dan diakui dunia. Bila anda datang ke bali rasakanlah bahwa “ada rasa saling mencintai antara manusia dengan alam lingkungan” disini. Tidak salah kalau dikatakan bahwa kebudayaan yang memanusiakan alam lingkungan inilah yang masuk ke dalam konsep “Tatwam Asi” dan “Tri Hita Karana”,  kini melahirkan budaya dan adat istiadat Bali yang luar biasa, yang menjadi penarik hati wisatawan datang ke Bali. Saat anda ke Bali, maka anda akan merasakan adanya kekuatan yang menarik anda untuk datang lagi ke Bali. Mungkin itu rasa cinta yang menarik anda.</p>
<p>Namun saat ini orang-orang di Bali mulai melupakan prinsip ini. Prinsip memanusiakan alam lingkungan sudah mulai ditinggalkan. Rumah-rumah dan bangunan bertumpuk-tumpuk tanpa halaman, pohon-pohon besar ditebang untuk dijadikan hotel, anjing-anjing dibunuh, manusia berburu kera, manusia bunuh manusia, tempat ibadah tak berkebun, budaya asing tak bersahabat, dan pulau Bali pun menjadi panas.</p>
<p>Manusia sudah tidak melihat alam lingkungan sekitarnya sebagai dirinya lagi.</p>
<p>Mari kita bangun konsep ini mulai dari dalam hati kita sendiri…. Karena saat ibu pertiwi marah semuanya akan terlambat untuk memperbaikinya.</p>
<p>‘haryoga’</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/12/budaya-bali-memanusiakan-alam-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Bali Menjadi Budaya yang Unik</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/10/budaya-bali-menjadi-budaya-yang-unik/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/10/budaya-bali-menjadi-budaya-yang-unik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 13:47:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[budaya bali]]></category>
		<category><![CDATA[galungan]]></category>
		<category><![CDATA[galungan lan kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[penjor bali]]></category>
		<category><![CDATA[pulau bali]]></category>
		<category><![CDATA[pulau dewata]]></category>
		<category><![CDATA[tari bali]]></category>
		<category><![CDATA[tari barong]]></category>
		<category><![CDATA[tari pendet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[
Seluruh masyarakat Bali baru saja lepas dari kesibukannya menyambut Galungan di pulau dewata. Galungan di Bali selalu dipenuhi dengan kegiatan ritual masyarakat hindu Bali. Adat istiadat yang menyatu dengan agama hindu di Bali yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Bali.
Sungguh indahnya kalo kita melewati jalan-jalan di Bali pada rentetan hari raya Galungan ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.baliwww.com/wp-content/photos/penjor_05.jpg"><img class="alignright" src="http://blog.baliwww.com/wp-content/photos/penjor_05.jpg" alt="" width="305" height="228" /></a></p>
<p>Seluruh masyarakat Bali baru saja lepas dari kesibukannya menyambut Galungan di pulau dewata. Galungan di Bali selalu dipenuhi dengan kegiatan ritual masyarakat hindu Bali. Adat istiadat yang menyatu dengan agama hindu di Bali yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Bali.</p>
<p>Sungguh indahnya kalo kita melewati jalan-jalan di Bali pada rentetan hari raya Galungan ini. Pinggir jalan dipenuhi dengan sanggah dan penjor-penjor menjulang tinggi dengan berbagai hiasan seperti sedang menyambut kedatangan dewa dewi dari kayangan memberikan berkah pada masyarakat Bali, banyak orang berpakaian putih-putih dengan banten di tangan serta bau asap dupa yang harum keluar dari pura-pura yang kita lewati membuat suasana semakin <span id="more-472"></span>magis dan menenangkan hati.</p>
<p>Sebuah budaya yang unik. Adat yang menyatu dengan agama menciptakan suatu budaya yang sangat luar biasa tersohor di seluruh dunia. Banyak masyarakat dunia ingin menirunya namun tak bisa seindah Bali. Bahkan secuil budaya Bali ingin di klaim namun dunia mengakui Bali pemiliknya. Para wisatawan dari manca Negara mengatakan ada sesuatu yang menarik jiwanya seakan ingin terus berlibur di Bali bahkan tak jarang para turis menghabiskan masa pensiunnya di Bali. Anak-anak pun bermimpi ingin ke Bali.</p>
<p>Namun banyak juga kalangan yang meremehkan budaya ini….. mengatakan untuk apa buat penjor… apa sih maksudnya orang Bali buang-buang duit saja bikin upacara-upacara dan upakara-upakara mahal-mahal lalu dibuang dan di bakar…. Bahkan banyak yang mengatakan masyarakat Bali bodoh… dan budaya Bali adalah budaya setan karena menyembah topeng-topeng raksasa… dan lain-lainnya.</p>
<p>Waaahhhh…. Marilah kita merenung sejenak tentang apa yang terjadi di Bali saat Galungan. Apakah budaya ini merugikan masyarakat atau bagaimana?</p>
<p>Saat Galungan tiba sebagai Hari Raya yang terbesar bagi Umat Hindu Bali, Galungan akan disambut dengan besar-besaran bahkan kadang-kadang terkesan jor-joran. Namun sebenarnya Bali memiliki tingkatan upacara yaitu nista, madya, dan utama. Yang artinya upacara itu bisa dilakukan dengan tingkat yang termurah (bagi yang paspasan) sampai sebesar-besarnya dan semegah-megahnya bagi yang punya duit.</p>
<p>Di saat sang kaya punya uang banyak, maka dibuatlah upacara yang besar juga, namun disaat yang miskin tak punya apa-apa upacara masih bisa tetap jalan dengan modal sekecil-kecilnya dengan bahan-bahan pula diambil dari alam.</p>
<p>Saat Galungan tiba uang di Bali berputar. Masyarakat miskin dapat meraup rejeki dari Galungan dan hari-hari raya yang lain. Semua bahan-bahan dari alam dipakai. Dari janur, kelapa, pohon pisang, papaya, nangka, ron, ental, buah-buahan, kapur, pinang, sirih, pohon perdu, daun-daunan, sayur- sayuran dipakai dan laku dipasaran. Tak ada budaya lain yang menghargai alam seperti ini, dan memberi pekerjaan pada yang miskin. Masyarakat yang kaya dan sibuk tentu tidak berkesempatan untuk membuat banten dan mencari bahan-bahan upakara sendiri tentu butuh orang lain untuk membantunya. Maka disinilah peran budaya ini dimana yang kaya diwajibkan untuk membantu yang miskin, yang miskin dapat pekerjaan mudah, jarang orang kaya mau naik pohon kelapa sendiri mencari bahan upakara. Yang miskin dibutuhkan disini. Dan ingat bahwa ini tidak terjadi hanya pada Galungan saja, hampir setiap hari di Bali ada saja upakara dan upacara yang harus dilakukan dan setiap hari pulalah yang kaya membutuhkan yang miskin dan begitu sebaliknya. Alam akan tetap dihargai dan dibutuhkan, uang akan terus berputar, yang miskin membantu yang kaya yang kaya membantu yang miskin.</p>
<p>Disinilah letak keindahan kehidupan di Bali. Maka bagi masyarakat hindu Bali tidak ada alasan lagi untuk mengeluhkan kebudayaan dan agama yang dianut. Dan bagi masayarakat diluar Hindu Bali janganlah lagi menghina atau menjelek-jelekkan budaya ini karena budaya ini adalah budaya yang mulia yang tak ada duanya didunia.</p>
<p><a href="http://copsis2.files.wordpress.com/2008/12/keunikan-tari-barong1.jpg"><img class="alignleft" src="http://copsis2.files.wordpress.com/2008/12/keunikan-tari-barong1.jpg" alt="" width="386" height="289" /></a>Mungkin karena inilah kerajaan majapahit saat masih Berjaya dulu bisa memberikan kebahagian bagi seluruh rakyatnya. Walau miskin dan kaya masih tetap ada namun ada kebersamaan disana. Yang kaya terbantu oleh yang miskin, yang miskin terbantu oleh yang kaya, manusia menghormati alam, alam membutuhkan manusia, dan manusia mencintai Penciptanya.</p>
<p>Alangkah damainya hidup ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/10/budaya-bali-menjadi-budaya-yang-unik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nusa Penida Antara kehidupan yang keras dan keindahan alam</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/09/nusa-penida-antara-kehidupan-yang-keras-dan-keindahan-alam/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/09/nusa-penida-antara-kehidupan-yang-keras-dan-keindahan-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 12:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Island]]></category>
		<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[jangan pernah berhenti]]></category>
		<category><![CDATA[kerasnya alam]]></category>
		<category><![CDATA[menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[never give up]]></category>
		<category><![CDATA[nusa penida]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda pergi ke nusa penida akan terasa betapa religiusnya pulau ini. Nusa penida merupakan sebuah pulau karang yang merupakan pilar besar pelindung pulau bali dari serangan ombak samudra indoneasia/samudera hindia. Pulau ini seperti onggokan karang besar yang berdiri amat kokoh bagaikan berakar ke seluruh pelosok bawah bumi. Karena terbuat dari karang maka nusa penida [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTIFNxWLwI/AAAAAAAAACk/s1Ri4f3VGzY/s320/10092009%28009%29.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTIFNxWLwI/AAAAAAAAACk/s1Ri4f3VGzY/s320/10092009%28009%29.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a>Jika anda pergi ke nusa penida akan terasa betapa religiusnya pulau ini. Nusa penida merupakan sebuah pulau karang yang merupakan pilar besar pelindung pulau bali dari serangan ombak samudra indoneasia/samudera hindia. Pulau ini seperti onggokan karang besar yang berdiri amat kokoh bagaikan berakar ke seluruh pelosok bawah bumi. Karena terbuat dari karang maka nusa penida sebagian besar adalah tanah kering dan memanglah sulit keberadaan air tawar itu apalagi di bagian pedalaman dan dataran tingginya. Jangankan air, tanah subur pun sulit ditemukan untuk bercocok tanam. Jangan mengharapkan sawah hijau membentang diairi oleh air jernih dan ikan-ikan tawar berdatangan di selokan, <span id="more-464"></span>yang ada adalah terasering dari karang dan semak dengan daun mengering, rumput yang terbakar dipinggir jalan dan ladang yang bertanahkan patahan-patahan karang tanpa terlihat selokan apalagi air yang mengalir. Tumbuhan pun tidak semua jenis dapat hidup di tanah seperti ini. Di sepanjang jalan akan terlihat jenis tumbuhan waru yang batangnya sengaja dibengkokkan untuk digunakan sebagai kantih jukung nelayan. Terdapat juga tumbuhan bunut yang jarang berdaun karena daunnya habis menjadi makanan favorit sapi. Para petani bertani diladang dengan terlebih dahulu menyisihkan karang-karang dari ladangnya dan dikumpulkan didepan rumah untuk dijual. Tanahpun dicampur dengan kotoran sapi yang sudah mulai mongering. Memang tidak mudah dan perlu waktu untuk mendapatkan tanah yang subur. Sapi adalah hewan tervaforit untuk dipelihara jika hendak berladang.</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTNthnKVQI/AAAAAAAAAC8/WN0-2r25kbM/s320/Foto0147.jpg"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTNthnKVQI/AAAAAAAAAC8/WN0-2r25kbM/s320/Foto0147.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a>Beruntung rasanya mendapat kesempatan bertugas melakukan pelayanan kesehatan gratis mewakili Dinkes propinsi Bali selama 4 hari di pulau karang ini (nusa penida). Tiba di dermaga sudah terasa betapa religiusnya pulau ini. Banyak tempat persembahyangan (pura) besar di pulau ini. Terutama kedua Pura yang sempat kami kunjungi: Pura Dalem Ped dan Pura Giri Putri (sebuah Gua yang sangat besar didalamnya namun tempat masuk hanya bisa dilalui 1 orang dengan sedikit merangkak). Begitu indahnya keajaiban alam nusa.</p>
<p>Mobil plat merah dinas kesehatan propinsi bali ini pun melaju menelusuri jalan menuju pemukiman penduduk di <a href="http://4.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTNtLWdD5I/AAAAAAAAAC0/RP3Hf21k3vk/s320/Foto0143.jpg"><img class="alignright" src="http://4.bp.blogspot.com/_g0cA3xsql64/SrTNtLWdD5I/AAAAAAAAAC0/RP3Hf21k3vk/s320/Foto0143.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a>pedalaman yang tandus di bawah panas sinar matahari yang membakar. Keluhan maja terus muncul meprotes pansnya hari dan rusaknya jalan yang dilalui. Namun di tengah perjalanan tertegun hati ini melihat seorang wanita tua sedang membenahi ladangnya. Dan itu berlalu begitu saja. Selesai pelayanan kesehatan hari pun mulai sore namun terik matahari tetap menyengat terasa. Melewati jalan yang sama, mata pun tidak mau kehilangan kesempatan melihat nenek itu lagi, yang benar saja wanita tua itu tetap teguh membenahi ladangnya sendiri, terlihat hitam kulit keriputnya terbakar matahari, tak terlihat wajahnya tertutup topi alang-alang melindungi kepalanya. Namun tetaplah terlihat kerasnya hidup yang harus dijalani. Sehari penuh harus menggemburkan tanah dan menyisihkan karang-karang kecil dari ladangnya. “Hidup yang keras!” Sepertinya hanya itu kata yang dapat keluar dari mulut ini.</p>
<p>Nenek ini mengingatkan saya dengan sebuah pesan hidup. Sama seperti slogan Winston Churchill saat berpidato didepan lulusan mahasiswa (wisuda Universitas Oxford) hanya berucap <a href="http://terahefraim.blogspot.com/2009/09/jangan-pernah-berhenti.html">“never give up!”</a>. Hidup memang tidak boleh pernah menyerah. Hidup terus harus dilalui meski apapun tantangannya. Sebuah pesan dari nenek tua yang sampai akhir-akhir umurnya harus tetap menjalani hidup keras bersama alam nusa penida. Sebuah pesan untuk terus berusaha dan “Never Give Up”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/09/nusa-penida-antara-kehidupan-yang-keras-dan-keindahan-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Adalah Virus Itu Sendiri</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/08/manusia-adalah-virus-itu-sendiri/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/08/manusia-adalah-virus-itu-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 12:48:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[curahan perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[kata hati]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manusia adlah virus]]></category>
		<category><![CDATA[peduli lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[save our earth]]></category>
		<category><![CDATA[unek unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[
Kita ketahui manusia adalah mahkluk yang paling mulia dimuka bumi ini. Memiliki pikiran dan perasaan. Memiliki otak dan rasa untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh mahkluk lain. Manusia, hewan, tumbuhan, dan benda yang tidak bernyawa dimuka bumi ini adalah bagian dari alam. Manusia memiliki kasih sayang begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://journeytosolidarity.org/wp-content/uploads/2009/07/hiv_microscope.jpg"><img class="alignright" src="http://journeytosolidarity.org/wp-content/uploads/2009/07/hiv_microscope.jpg" alt="" width="316" height="212" /></a></p>
<p>Kita ketahui manusia adalah mahkluk yang paling mulia dimuka bumi ini. Memiliki pikiran dan perasaan. Memiliki otak dan rasa untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh mahkluk lain. Manusia, hewan, tumbuhan, dan benda yang tidak bernyawa dimuka bumi ini adalah bagian dari alam. Manusia memiliki kasih sayang begitu juga hewan dan tumbuhan. Manusia hewan dan tumbuh tumbuhan saling mencintai dan saling menghormati begitulah awal mulanya, begitulah perjanjiannya. Namun seiring<span id="more-449"></span> dengan waktu, manusia mulai mengkhianati alam. Manusia semakin memperbanyak dirinya dan dengan pikiran dan ciptaannya manusia menginvasi alam ini. Manusia kini mengklaim bumi sebagai planetnya…. Miliknya. Kini saudara-saudaranya, hewan dan tumbuhan, disingkirkan. Mereka sedikit demi sedikit punah karena tak bisa bertahan hidup. Manusia telah membunuh mereka demi membuat rumah manusia. Hewan dan tumbuhan dibantai seakan-akan mereka tidak pernah bersaudara. Manusia telah menganggap dirinya bukan sebagai bagian dari alam, melainkan yang memiliki alam ini. Manusia telah berubah.</p>
<p>Setiap hari manusia memperbanyak dirinya, mencari jalan untuk bertahan hidup lebih lama. Membunuh hewan untuk dimakan. Membunuh hewan untuk dikuliti hidup-hidup, membunuh hewan untuk diambil gadingnya, kulitnya, taringnya, jantungnya, darahnya, bahkan telor dan cangkangnya pun diambil hanya untuk kesenangan manusia atau hanya untuk apa yang mereka sebut uang. Tak berbeda nasibnya dengan hewan, tumbuh-tumbuhan pun dibantai, kecil besar semuanya dibantai hanya untuk kesenangan manusia membuat gedung-gedung, pabrik demi kelangsungan hidup manusia. Manusia telah mengkhianati saudara-saudaranya. Manusia tak lagi melihat hewan dan tumbuhan sebagai bagian dari hidupnya. Manusia tidak mengakui hewan dan tumbuhan sebagai saudara-saudaranya, bagian dari alam ini.</p>
<p>Timbul pertanyaan apakah manusia itu musuh alam ataukah bagian dari alam?</p>
<p>Bila diibaratkan bumi adalah tubuh manusia maka manusia adalah sama dengan virus mematikan yang belum ada obatnya dan terus berkembang membentuk koloni-koloni di dalam tubuh bumi. Manusia terus memperbanyak diri memperbanyak rumah-rumah dan keperluannya dengan merusak alam, hewan dan tumbuhan, layaknya gerombolan virus mematikan.bahkan tidak tanggung-tanggung saling membunuh diantara mereka sendiri demi kepentingan kelompoknya. Virus ini tidak bisa dimusnahkan sampai akhirnya seluruh tubuh bumi diambil alih dan tiba saatnya virus ini mencari tubuh yang lain meninggalkan bumi yang telah mereka rusak. Kini bumi tidak lagi bisa mempertahankan suhu tubuhnya. Kini bumi kehilangan sebagian besar kulit-kulit tubuhnya yang subur. Semua dilahap habis oleh virus keji yaitu manusia. Kotoran-kotoran dari virus ini pun merusak bumi. Udara, air , tanah semuanya rusak karena kotoran-kotoran dari virus ini. Ada yang berupa sampah plastic, karbon dioksida, limbah pabrik, asap hitam kendaraannya, dan semua kotoran ini semakin mempercepat kematian sang bumi.</p>
<p>Akankah manusia kembali sadar akan dirinya, mencintai bumi seperti dulu lagi? Datang kembali memeluk saudara-<a href="www.worth1000.com"><img class="alignright" src="http://rookery2.viary.com/storagev12/776500/776733_f4cf_625x1000.jpg" alt="" width="340" height="225" /></a>saudaranya, hewan dan tumbuhan, dengan penuh cinta kasih? Memberikan tempat untuk saudara-saudaranya yang kurang beruntung? Akan kah manusia benar-benar menjadi mahkluk yang mulia seperti yang digembor-gemborkan itu. Atau hanyalah segerombolan virus yang akan terus mengoyak-ngoyak tubuh bumi dan akhirnya meninggalkan bumi untuk mencari tubuh yang lain.</p>
<p>Oh manusia… dengarkanlah setiap malam saat engkau tertidur pulas… Ibu Bumi menangis…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/08/manusia-adalah-virus-itu-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ATLS : pasienku tertidur saat ujian</title>
		<link>http://imadeharyoga.com/2009/06/atls-pasienku-tertidur-saat-ujian/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.com/2009/06/atls-pasienku-tertidur-saat-ujian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 13:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haryoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heart Sound]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[airway]]></category>
		<category><![CDATA[atls]]></category>
		<category><![CDATA[breathing]]></category>
		<category><![CDATA[circulation]]></category>
		<category><![CDATA[disability]]></category>
		<category><![CDATA[exposure]]></category>
		<category><![CDATA[ngorok]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan bedah]]></category>
		<category><![CDATA[primary survei]]></category>
		<category><![CDATA[secondary survey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Fiuh akhirnya atls selesai juga… wah melelahkan dan mendebarkan sekali pelatihan ini. Tapi semua demi kemajuan keterampilan kita terutama waktu menghadapi situasi emergency. Hari demi hari terlewati…. Dari matahari belum muncul hingga matahari telah tenggelam di ufuk barat berlatih dan berlatih dan berujian-ujian hehe… sudah 3 hari tidak melihat matahari nih… jadi kangen liat matahari. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://dc119.4shared.com/"><img class="alignleft" src="http://dc119.4shared.com/img/95839355/c52dbf5d/atls_-_apoyo_vital_avanzado_en_trauma_para_mdicos.pdf" alt="" width="165" height="200" /></a>Fiuh akhirnya atls selesai juga… wah melelahkan dan mendebarkan sekali pelatihan ini. Tapi semua demi kemajuan keterampilan kita terutama waktu menghadapi situasi emergency. Hari demi hari terlewati…. Dari matahari belum muncul hingga matahari telah tenggelam di ufuk barat berlatih dan berlatih dan berujian-ujian hehe… sudah 3 hari tidak melihat matahari nih… <span id="more-353"></span>jadi kangen liat matahari. Kulit pun terasa lebih hiperdense heehee (hanya perasaan aj<span style="font-family: Wingdings;"><span>L</span></span>).</p>
<p class="MsoNormal">Sebuah system baru ala ATLS kini sudah terpaku di antara gyrus-gyrus otak….menyusup kedalam sulcus-sulcus hemisper kanan dan kiri weleh weleeh… Sebuah system baru yaitu system ABCDE!!!!</p>
<p class="MsoNormal">Primary survey n secondary survey…. Semoga melekat selalu seumur hidupqu.</p>
<p class="MsoNormal">Thanks buat Tuhan yang memberkatiqu mempertemukanqu dengan system ini. Thank buat pelatih n temen-temen peserta atas kekompakannya… kenal walopun gak kenal tapi kita uda satu keluarga sekarang keluarga ATLS heeheee&#8230;. dan tidak lupa buat adik-adik TBM yang jadi pasien simulasi untuk pelatihan maupun ujian kita.</p>
<p class="MsoNormal">Sebuah kesan yang selalu akan saya ingat… dimana pasien simulasi untuk ujian saya ternyata ngorok di tengah ketegangan saya….. Saat sedang menyelesaikan ujian bersama penguji melalui tahap demi tahap ABCDE mulailah pasien terlihat menurun kesadarannya….tapi penguji tetap bilang “Airway clear..!breathing baik….!circulation stabil…! Disability dan Exposure <span> </span>sudah…..! Oke.. sekarang kita baca hasil rontgennya….” Eh ditengah kita lagi baca foto <a href="http://3.bp.blogspot.com/"><img class="alignright" src="http://3.bp.blogspot.com/_G0OBnN3AFEM/SYue5C_xGgI/AAAAAAAAAOA/U20wqmEE2Bc/s400/AIRWAY.jpg" alt="" width="288" height="187" /></a>thorak terdengar suara ngorok yang keras pasien…. Dalam hati saya merasa wah ada yang gak beres lagi airwaynya nih…tapi kalo sudah pasang PET kok masih ngorok ya??!?! Namun penguji tidak ada merespon, beliau tetap melanjutkan penjelasan dan pertanyaannya. Apakah saya harus memperbaiki airwaynya dulu ato saya tetap diskusi dengan penguji tentang hasil rontgennya?!wah jadi bingung nih… perdebatan sengit terus terjadi dalam otak kanan dan kiri saya sampai-sampai tidak konsen mendengar pertanyaan penguji….cape dee…suara gorok semakin keras namun penguji tetap mengajak saya berdiskusi……waah jangan-jangan saya bisa gak lulus nih kalo membiarkan airway terganggu…ya sudahlah biarkan saja……..pasrahh…pikir saya dalam hati.. Sampai akhirnya ujian telah selesai tetapi suara ngorok masih terdengar membelah kesunyian….</p>
<p class="MsoNormal">Mudah-mudahan penguji mengerti saat berdiskusi tadi saya terganggu dengan suara ngorok pasien yang udah saya intubasi.</p>
<p class="MsoNormal">NB: saya terkesan dengan seorang adik kelas yang menjadi pasien ujian saya, dalam ketegangan ujian ATLS ini dia bisa tertidur pulas….sungguh ketenangan jiwa yang mengagumkan…. Atau saking capeknya gak dapet istirahat, dari tadi pagi jadi pasien coba…..heehee…. thanks</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.com/2009/06/atls-pasienku-tertidur-saat-ujian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

