Naik tidak perlu persiapan, namun turun perlu persiapan

Tue, Jan 12, 2010

Bali Island, Gede Prama, Heart Sound

Ini adalah sebuah kalimat yang kontroversial, “naik tidak perlu persiapan, turunlah yang perlu persiapan”. Kalimat ini pertama kali saya dengar dari seorang penceramah yang saya kagumi, Gede Prama. Benar atau tidaknya kalimat ini tergantung dari sudut mana kita mengartikannya.

Saat ini kebanyakan orang selalu berkeinginan melebihi orang lain, menjadi sesuatu yang lebih, menjadi sesuatu yang paling super, seperti pangkat yang tinggi, kedudukan yang tertinggi, uang yang banyak, rumah yang paling megah, dan banyak hal lainnya yang kita anggap akan memberikan kepuasan bathin kita. Bahkan secara tidak sengaja mempersiapkan diri untuk memiliki hidup yang penuh kemewahan ini. Tidak jarang banyak orang yang miskin pun memaksakan diri bergaya hidup mewah.

Seorang keryawan berangan-angan menjadi bos, seorang miskin berangan-angan menjadi kaya raya.

Namun saat telah mendapatkan kejayaan dan kemewahan itu, orang sering lupa mempersiapkan diri bila kelak bisa saja akan menjadi menderita dan segalanya tidak ada, atau segalanya tidak bisa, entah karena dimakan usia, atau mendapatkan kebangkrutan, atau bencana alam, atau gagal promosi, atau kegagalan-kegagalan yang lainnya.

Maka timbullah stess, cemas, depresi dan tidak jarang orang menjadi konslet dan menderita kelainan jiwa. Mendadak menjadi paranoid, atau bahkan menjadi tertawa-tertawa dan menangis sendiri serta menjadi gembel,hidup dalam dunianya sendiri ,seperti dunia kedokteran sebut sebagai Skizofrenia paranoid dan skizofrenia hebefrenik  (populernya disebut gila).

Tidak jarang seorang direktur suatu perusahaan besar menjadi depresi bahkan skizofrenia (gila) saat usia pensiunnya tiba. Banyak konglomerat yang mendadak bunuh diri saat bisnisnya gagal dan menderita kerugian yang besar.  Kebiasaan dilayani, kebiasaan memerintah, kebiasaan selalu diatas dan penuh kemewahan kadang membuat kita lupa mempersiapkan diri untuk turun menjadi orang yang tidak ada apa-apanya lagi. Menjadi orang yang tidak pernah diperhitungkan lagi….

Jadi ingat pasien saat coass dulu di lab. Psikiatri….. Saat seorang pelatih militer yang ditakuti anak buahnya pada masanya, kini tiba-tiba terserang depresi saat usia pensiunnya tiba, tidak ada lagi yang dibentak, tak ada lagi yang mempedulikannya karena mereka semua hanya hormat karena takut. Jelaslah bahwa bapak pensiunan ini tidak siap menghadapi usia-usia pensiunnya.

Kita semua siap saat di atas…namun saat kita di bawah tidak semua dari kita siap.

“naik tidak perlu persiapan, turun perlu persiapan”

Karena semua orang akan tiba saatnya menghadapi saat-saat TURUN kembali.

jadi ingat dengan nasehat orang tua “saat berjalan janganlah selalu menoleh keatas…. sesekali lihatlah kebawah… sehingga tidak tersandung”

, , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 59 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

4 Comments For This Post

  1. Cahya Says:

    Yah, terkadang memang demikian susah, nanti entah mengapa yang malah jadi keluarganya yang sibuk.

    [OOT] Sistem Ajax Comluv sepertinya macet :D

  2. Deddy Says:

    Keren har, tapi menurutku, naik juga perlu persiapan lho. Jangan sampe baru naek terus turun lagi. Hehe…

  3. pande Says:

    Yup,memang setiap hal hrs dipersiapkan,jangan lupa juga bersyukur atas apa yg sudah diperoleh.tetap menulis pak haryoga..mari berbagi bersama

  4. haryoga Says:

    @cahya: iya betul… keluarga yang tak tahu permasalahn pun jadi sibuk
    @bos deddy: iya betul bos…ntar jadi naik turun dia
    @pande: yup kuncinya bersyukur nde… mari berbagi bersama

Leave a Reply