Hidup di pulau Bali banyak hal yang aneh dan tidak biasa kita lihat disana. ini tentang kebiasaan
orang – orang/penduduk asli Bali. Kadang bagi orang-orang yang tumben datang ke Bali terheran heran melihat adat istiadat orang Bali. Dan banyak muncul pertanyaan menggelitik yang keluar dari bibir para wisatawan kepada guidenya yang kadang guidenya pun tidak dapat menjelaskan hal ini dengan gamblang.
Ada satu hal (diantara banyak hal lainnya) yang paling sering dilontarkan oleh wisatawan-wisatawan ini. Saat melihat pohon beringin dilingkari kain hitam putih (bahasa Bali: kamen/kamben poleng), begitu juga patung-patung dari kayu maupun batu dan pilar pun di pakaikan kain (bahasa Bali : kamen/kamben). Kenapa harus begitu? Pilar dan patung dari batu kok juga di pakaikan pakaian. Memang aneh!!!
Begitulah orang Bali…. Sejak dulu memang begitu… kalo orang Bali di tanya kebanyakan bilang “nak mule keto” artinya “memang begitu”. Tapi ternyata di dalam sana terdapat filsafat yang sangat tinggi yang memang sulit untuk dimengerti. Orang Bali dari dulu sering memberikan jawaban “nak mule keto” (memang begitu) adalah ada maknanya bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perlu kita juga ketahui bahwa Orang-orang jaman dulu memang memahami sesuatu dengan hati yang sangat mendalam sehingga sulit di lukiskan dengan kata-kata. Banyak hal yang memang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata….bahkan kalau dijelaskan dengan kata-kata akan memberikan makna yang membingungkan atau pengertian yang lain dari yang dimaksud… Dengan kata lain kita harus mencari jawabannya sendiri dengan hati kita. Namun sayangnya kita (orang-orang jaman sekarang) sangat jarang yang mampu menemukannya. Dan celakanya orang-orang jaman sekarang mengatakan kalimat “nak mule keto” bukan karena memahami hal yang “tidak terkatakan” itu, tapi semata-mata memang karena tidak tahu menahu tentang hal itu……:)
Kembali ke bahasan kenapa pilar, pohon beringin, patung, dll itu dipakaikan kain atau pakaian, semata-mata memang karena perinsip orang Bali sejak dulu, leluhur orang Bali, menurunkan tradisi yang mulia ini yaitu “memanusiakan alam lingkungan”. Semua hal di manusiakan, termasuk binatang, tumbuhan, dan benda mati disekelilingnya di manusiakan, atau disayangi seperti manusia, atau diperlakukan seperti manusia atau “diperlakukan seperti memperlakukan dirinya sendiri”.
Sungguh suatu budaya yang luar biasa. Mencintai segala sesuatu didunia ini seperti mencintai dirinya sendiri. Itulah yang menjadi harapan nenek moyang/ leluhur/ pendahulu orang-orang Bali (tentunya bukan hanya leluhur orang-orang Bali saja yang menginginkan seperti itu). Inilah sebuah ajaran BUDI PEKERTI yang akan menyelamatkan kita dari kemarahan alam dan dunia ini. Karena kita mencintai alam lingkungan seperti diri sendiri maka alam juga akan mencintai manusia. Itulah kenapa ketentraman hidup di pulau Bali ini menggaung keseluruh dunia. Dunia mengakui keindahan Bali bukan karena gedung yang menjulang tinggi, bukan karena wanita-wanita seksi, bukan karena tempat untuk berjudi, tetapi karena adanya rasa cinta terhadap alam lingkungannya, budaya memanusiakan alam lingkunganlah yang membuat Bali menjadi terkenal dan diakui dunia. Bila anda datang ke bali rasakanlah bahwa “ada rasa saling mencintai antara manusia dengan alam lingkungan” disini. Tidak salah kalau dikatakan bahwa kebudayaan yang memanusiakan alam lingkungan inilah yang masuk ke dalam konsep “Tatwam Asi” dan “Tri Hita Karana”, kini melahirkan budaya dan adat istiadat Bali yang luar biasa, yang menjadi penarik hati wisatawan datang ke Bali. Saat anda ke Bali, maka anda akan merasakan adanya kekuatan yang menarik anda untuk datang lagi ke Bali. Mungkin itu rasa cinta yang menarik anda.
Namun saat ini orang-orang di Bali mulai melupakan prinsip ini. Prinsip memanusiakan alam lingkungan sudah mulai ditinggalkan. Rumah-rumah dan bangunan bertumpuk-tumpuk tanpa halaman, pohon-pohon besar ditebang untuk dijadikan hotel, anjing-anjing dibunuh, manusia berburu kera, manusia bunuh manusia, tempat ibadah tak berkebun, budaya asing tak bersahabat, dan pulau Bali pun menjadi panas.
Manusia sudah tidak melihat alam lingkungan sekitarnya sebagai dirinya lagi.
Mari kita bangun konsep ini mulai dari dalam hati kita sendiri…. Karena saat ibu pertiwi marah semuanya akan terlambat untuk memperbaikinya.
‘haryoga’









December 1st, 2009 at 9:35 pm
saya dengar banyak yang belajar tentang budi pekertinya orang bali ya? kalau saya sih belajar banyak dari pengalaman tentang “BODI LUHUR”nya perempuan bali, hehe…
December 2nd, 2009 at 12:33 am
wah… wah….
nyoba comment, mudah2an bisa..
klo menurut saya, tiap2 daerah dimanapun, mempunyai cara untuk memuja Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.. banyak yang unik, banyak yang menarik, namun banyak pula yang gak sesuai bahkan bertentangan dengan budaya atau kepercayaan kita dan menimbulkan perbedaan..
tapi saya yakin, dengan memberi pengertian tentang budaya dan kepercayaan kita, orang2 disekitar akan dapat mengerti dan dapat menghormati perbedaan yang terjadi…
pertanyaannya kemudian, sudahkah kita yang mengaku orang bali, bisa mengerti budaya kita sendiri, ataukah slogan “Nak Mule Keto” akan kita warisi selanjutnya kepada keturunan kita… Jawabannya ada di balik hati kita masing2…
December 2nd, 2009 at 4:44 pm
Har..mungkin pemahaman mencintai lingkungan dengan memberikan kamen di pohon ato sejenisnya itu belum sepenuhnya bisa diterima..malah banyak asumsi yang berkembang orang bali ( mungkin umat Hindu yang dimaksud) memuja benda2 itu..
December 3rd, 2009 at 6:15 pm
yupe, nak mule keto bli bagus
(ga tau mau komen apa nie bos, tulisannya dalem banget. cuma bisa manggut-manggut dan berkata setuju)
December 5th, 2009 at 9:01 pm
@dr.oka: Bodi luhur? weleh2…. saya juga dok… itu mungkin juga salah satu alasan tetap mencintai bali

@jepo: yup… kita harus berusaha buar gak lagi jadi generasi “nak mule keto” bos…hehe
@yah tugas kita sebagai generasi berikutnya mencari kejelasan itu sehingga tidak ada lagi asumsi yang ngambang.. sehingga semua itu dapat dijelaskan dengan mantap… gak lagi dengan kalimat “nak mule keto” hehhee begitu menurut saya
@eka: sante aja bos anggap aja pembicaraan ringan sambil ngerumpi tentang nasib budaya bali.budaya kita
December 6th, 2009 at 4:00 pm
wah, komentar dr oka merusak semua konsentrasiku. padahal td aku sudah menyipakn komentar yg berbudi.
December 10th, 2009 at 8:29 pm
@mas a!: heeeheee