Budaya Bali Menjadi Budaya yang Unik

Fri, Oct 16, 2009

Bali Island, Heart Sound

Seluruh masyarakat Bali baru saja lepas dari kesibukannya menyambut Galungan di pulau dewata. Galungan di Bali selalu dipenuhi dengan kegiatan ritual masyarakat hindu Bali. Adat istiadat yang menyatu dengan agama hindu di Bali yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Bali.

Sungguh indahnya kalo kita melewati jalan-jalan di Bali pada rentetan hari raya Galungan ini. Pinggir jalan dipenuhi dengan sanggah dan penjor-penjor menjulang tinggi dengan berbagai hiasan seperti sedang menyambut kedatangan dewa dewi dari kayangan memberikan berkah pada masyarakat Bali, banyak orang berpakaian putih-putih dengan banten di tangan serta bau asap dupa yang harum keluar dari pura-pura yang kita lewati membuat suasana semakin magis dan menenangkan hati.

Sebuah budaya yang unik. Adat yang menyatu dengan agama menciptakan suatu budaya yang sangat luar biasa tersohor di seluruh dunia. Banyak masyarakat dunia ingin menirunya namun tak bisa seindah Bali. Bahkan secuil budaya Bali ingin di klaim namun dunia mengakui Bali pemiliknya. Para wisatawan dari manca Negara mengatakan ada sesuatu yang menarik jiwanya seakan ingin terus berlibur di Bali bahkan tak jarang para turis menghabiskan masa pensiunnya di Bali. Anak-anak pun bermimpi ingin ke Bali.

Namun banyak juga kalangan yang meremehkan budaya ini….. mengatakan untuk apa buat penjor… apa sih maksudnya orang Bali buang-buang duit saja bikin upacara-upacara dan upakara-upakara mahal-mahal lalu dibuang dan di bakar…. Bahkan banyak yang mengatakan masyarakat Bali bodoh… dan budaya Bali adalah budaya setan karena menyembah topeng-topeng raksasa… dan lain-lainnya.

Waaahhhh…. Marilah kita merenung sejenak tentang apa yang terjadi di Bali saat Galungan. Apakah budaya ini merugikan masyarakat atau bagaimana?

Saat Galungan tiba sebagai Hari Raya yang terbesar bagi Umat Hindu Bali, Galungan akan disambut dengan besar-besaran bahkan kadang-kadang terkesan jor-joran. Namun sebenarnya Bali memiliki tingkatan upacara yaitu nista, madya, dan utama. Yang artinya upacara itu bisa dilakukan dengan tingkat yang termurah (bagi yang paspasan) sampai sebesar-besarnya dan semegah-megahnya bagi yang punya duit.

Di saat sang kaya punya uang banyak, maka dibuatlah upacara yang besar juga, namun disaat yang miskin tak punya apa-apa upacara masih bisa tetap jalan dengan modal sekecil-kecilnya dengan bahan-bahan pula diambil dari alam.

Saat Galungan tiba uang di Bali berputar. Masyarakat miskin dapat meraup rejeki dari Galungan dan hari-hari raya yang lain. Semua bahan-bahan dari alam dipakai. Dari janur, kelapa, pohon pisang, papaya, nangka, ron, ental, buah-buahan, kapur, pinang, sirih, pohon perdu, daun-daunan, sayur- sayuran dipakai dan laku dipasaran. Tak ada budaya lain yang menghargai alam seperti ini, dan memberi pekerjaan pada yang miskin. Masyarakat yang kaya dan sibuk tentu tidak berkesempatan untuk membuat banten dan mencari bahan-bahan upakara sendiri tentu butuh orang lain untuk membantunya. Maka disinilah peran budaya ini dimana yang kaya diwajibkan untuk membantu yang miskin, yang miskin dapat pekerjaan mudah, jarang orang kaya mau naik pohon kelapa sendiri mencari bahan upakara. Yang miskin dibutuhkan disini. Dan ingat bahwa ini tidak terjadi hanya pada Galungan saja, hampir setiap hari di Bali ada saja upakara dan upacara yang harus dilakukan dan setiap hari pulalah yang kaya membutuhkan yang miskin dan begitu sebaliknya. Alam akan tetap dihargai dan dibutuhkan, uang akan terus berputar, yang miskin membantu yang kaya yang kaya membantu yang miskin.

Disinilah letak keindahan kehidupan di Bali. Maka bagi masyarakat hindu Bali tidak ada alasan lagi untuk mengeluhkan kebudayaan dan agama yang dianut. Dan bagi masayarakat diluar Hindu Bali janganlah lagi menghina atau menjelek-jelekkan budaya ini karena budaya ini adalah budaya yang mulia yang tak ada duanya didunia.

Mungkin karena inilah kerajaan majapahit saat masih Berjaya dulu bisa memberikan kebahagian bagi seluruh rakyatnya. Walau miskin dan kaya masih tetap ada namun ada kebersamaan disana. Yang kaya terbantu oleh yang miskin, yang miskin terbantu oleh yang kaya, manusia menghormati alam, alam membutuhkan manusia, dan manusia mencintai Penciptanya.

Alangkah damainya hidup ini.

, , , , , , , , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 59 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

2 Comments For This Post

  1. Petruk Journal Says:

    Budaya orang Bali memang unik dan menarik. Aku pernah ke Bali, dan sampai skr pun pengalaman selama di sana masih berkesan. Semoga generasi muda di sana bisa melestarikannya dengan baik. Jangan sampai budaya yang ada diklaim lagi oleh negara tetangga. :)

  2. haryoga Says:

    @petruk: iya semoga masih tetap lestari sampai akhir zaman…

Leave a Reply