Nusa Penida Antara kehidupan yang keras dan keindahan alam

Wed, Sep 23, 2009

Bali Island, Heart Sound

Jika anda pergi ke nusa penida akan terasa betapa religiusnya pulau ini. Nusa penida merupakan sebuah pulau karang yang merupakan pilar besar pelindung pulau bali dari serangan ombak samudra indoneasia/samudera hindia. Pulau ini seperti onggokan karang besar yang berdiri amat kokoh bagaikan berakar ke seluruh pelosok bawah bumi. Karena terbuat dari karang maka nusa penida sebagian besar adalah tanah kering dan memanglah sulit keberadaan air tawar itu apalagi di bagian pedalaman dan dataran tingginya. Jangankan air, tanah subur pun sulit ditemukan untuk bercocok tanam. Jangan mengharapkan sawah hijau membentang diairi oleh air jernih dan ikan-ikan tawar berdatangan di selokan, yang ada adalah terasering dari karang dan semak dengan daun mengering, rumput yang terbakar dipinggir jalan dan ladang yang bertanahkan patahan-patahan karang tanpa terlihat selokan apalagi air yang mengalir. Tumbuhan pun tidak semua jenis dapat hidup di tanah seperti ini. Di sepanjang jalan akan terlihat jenis tumbuhan waru yang batangnya sengaja dibengkokkan untuk digunakan sebagai kantih jukung nelayan. Terdapat juga tumbuhan bunut yang jarang berdaun karena daunnya habis menjadi makanan favorit sapi. Para petani bertani diladang dengan terlebih dahulu menyisihkan karang-karang dari ladangnya dan dikumpulkan didepan rumah untuk dijual. Tanahpun dicampur dengan kotoran sapi yang sudah mulai mongering. Memang tidak mudah dan perlu waktu untuk mendapatkan tanah yang subur. Sapi adalah hewan tervaforit untuk dipelihara jika hendak berladang.

Beruntung rasanya mendapat kesempatan bertugas melakukan pelayanan kesehatan gratis mewakili Dinkes propinsi Bali selama 4 hari di pulau karang ini (nusa penida). Tiba di dermaga sudah terasa betapa religiusnya pulau ini. Banyak tempat persembahyangan (pura) besar di pulau ini. Terutama kedua Pura yang sempat kami kunjungi: Pura Dalem Ped dan Pura Giri Putri (sebuah Gua yang sangat besar didalamnya namun tempat masuk hanya bisa dilalui 1 orang dengan sedikit merangkak). Begitu indahnya keajaiban alam nusa.

Mobil plat merah dinas kesehatan propinsi bali ini pun melaju menelusuri jalan menuju pemukiman penduduk di pedalaman yang tandus di bawah panas sinar matahari yang membakar. Keluhan maja terus muncul meprotes pansnya hari dan rusaknya jalan yang dilalui. Namun di tengah perjalanan tertegun hati ini melihat seorang wanita tua sedang membenahi ladangnya. Dan itu berlalu begitu saja. Selesai pelayanan kesehatan hari pun mulai sore namun terik matahari tetap menyengat terasa. Melewati jalan yang sama, mata pun tidak mau kehilangan kesempatan melihat nenek itu lagi, yang benar saja wanita tua itu tetap teguh membenahi ladangnya sendiri, terlihat hitam kulit keriputnya terbakar matahari, tak terlihat wajahnya tertutup topi alang-alang melindungi kepalanya. Namun tetaplah terlihat kerasnya hidup yang harus dijalani. Sehari penuh harus menggemburkan tanah dan menyisihkan karang-karang kecil dari ladangnya. “Hidup yang keras!” Sepertinya hanya itu kata yang dapat keluar dari mulut ini.

Nenek ini mengingatkan saya dengan sebuah pesan hidup. Sama seperti slogan Winston Churchill saat berpidato didepan lulusan mahasiswa (wisuda Universitas Oxford) hanya berucap “never give up!”. Hidup memang tidak boleh pernah menyerah. Hidup terus harus dilalui meski apapun tantangannya. Sebuah pesan dari nenek tua yang sampai akhir-akhir umurnya harus tetap menjalani hidup keras bersama alam nusa penida. Sebuah pesan untuk terus berusaha dan “Never Give Up”.

, , , , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 59 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

3 Comments For This Post

  1. Terah Says:

    Apa yang ada di balik kerasnya kehidupan di Nusa Penida, yang perlu kita acungkan jempol adalah sikap ulet mereka untuk tidak pernah berhenti berjuang, dan ini merupakan suatu kesempurnaan hidup yang tersembunyi yang perlu kita cermati bersama. Kehidupan di Nusa Penita mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang. Demikian juga ibarat besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius.

  2. haryoga Says:

    @pak terah: yah kembali lagi ke kata-kata pak churchil, never give up!!! :lol:
    untuk membuat suatu perubahan yang baik memang harus diperlukan karakter yang pantang menyerah, usaha yang berulang-ulang tanpa mengenal putus asa… smangat!!

  3. henie jegeg Says:

    apakah suatu saat aku akan berada di posisi nenek tua itu??
    :shock:

Leave a Reply