Majapahit merupakan sebuah kerajaan terbesar di Nusantara ini yang mampu menyatukan Nusantara dari sabang
sampai merauke terutama sejak pemerintahan Raja Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya.
Sebagai seorang mahkluk penghuni Nusantara ini tentulah bangga hati ini memiliki sejarah leluhur dengan budaya yang luar biasa ini, bangga dan rindu akan kebesaran Majapahit yang terbukti bisa menyatukan Nusantara dengan Rakyatnya adil makmur “Gemah Ripah Loh Jinawi”.
Namun banyak hal yang belum kita ketahui tentang sejarah Bangsa Indonesia ini saat itu. Seperti ditelan bumi cerita sejarah kerajaan dan candi-candi di nusantara ini terupakan. Candi Borobudur, Prambanan, dan candi-candi lainnya sebagai warisan leluhur kita terbengkalai seperti tidak ada yang peduli lagi dengan keberadaannya. Bukankah kita sering mendengar ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya?
Begitu inginnya hati ini sedikit mengorek tentang sejarah nusantara, tidak sengaja dipertemukan tentang sebuah catatan dan kutipan sejarah Majapahit. Bagaimana Kerajaan Majapahit berakhir di masa itu? Apakah benar-benar berakhir?
Dengan tidak bermaksud untuk menyinggung masalah SARA namun semata-mata hanya keinginan untuk mengetahui kembali sejarah Nusantara, Kutipan ini saya ambil dari sebuah Forum Sabda Palon.
Marilah kita mulai cerita ini dengan susunan Raja Majapahit:
Susunan Raja-Raja dari Kerajaan Mojopait, dari awal sampai akhir yaitu mulai dari berdiri hingga keruntuhannya, hanya 7 kali turunan, ialah:
Raja Browijoyo I = Joko Sesuruh atau R.Wijaya
Raja Browijoyo II = Jayanegara atau Prabu Anom
Raja Browijoyo III = Adiningkung
Raja Browijoyo IV = Hayamwuruk
Raja Browijoyo V = Lembu Aminisani
Raja Browijoyo VI = Brotanjung
Raja Browijoyo VII = Raden Alit ayah dari Raden Fatah (Prabu Brawijaya).
Dalam serat Dharmagandhul (Serat Dharmo Gandul) pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Naya Genggong di Blambangan.
Pertemuan terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah (Putra Prabu Brawijaya dari Putri Campa/Dara Petak putri saudagar Cina Muslim) yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam.
Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya (Raden Alit) mereka berpisah.
Sebelum perpisahan terjadilah ucapan-ucapan seperti pada Kidung Pupuh Sinom berikut ini:
Pupuh Sinom:
1). Pada sira ngelingana
Carita ing nguni-nguni
Kang kocap ing serat babad
Babad nagri Mojopahit
Naika duking nguni
Sang-a Brawijaya Prabu
Pan Samya pepanggihan
Kaliyan Njeng Sunan Kali
Sabda Palon Naya Genggong rencangira
Artinya :
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit, Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
2). Sang – a Prabu Brawijaya
Sabdanira arum manis
Nuntun dhateng punakwan
“Sabda palon paran karsi”
Jenengsun sapuniki
Wus ngrasuk agama Rosul
Heh ta kakang manira
Meluwa agama suci
Luwih becik iki agama kang mulya
Artinya:
Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya: “Sabda palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu. Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.
3). Sabda Palon matur sugal,
“Yen kawula boten arsi,
Ngrrasuka agama Islam
Wit kula puniki yekti
Ratuning Dang Hyang Jawi
Momong marang anak putu,
Sagung kang para Nata,
Kang jemeneng Tanah Jawi,
Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.
Artinya:
Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.
4). Klawan Paduka sang Nata,
Wangsul maring sunya ruri,
Nung kula matur petungna,
Ing benjang sakpungkur mami,
Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Budha kula sebar tanah Jawa.
Artinya:
Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
5). Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajeken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen during lebur atempur,
Kula damel pratandha,
Pratandha tembayan mami,
Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.
Artinya:
Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya..
6). Ngidul ngilen purugina,
Ngganda banger ingkang warih,
Nggih punika medal kula,
Wus nyebar Agama Budi,
Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata,
Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.
Artinya:
Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.
7). Sanget-sangeting sangsara,
Kan tuwuh ing tanah Jawi,
Sinengkalan tahunira,
Lawon Sapta Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali,
Prapta tengah-tengahipun,
Kaline bajir bandhang,
Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
Kelak waktunya paling sengsara di tanah jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesti Aji (1.878 atau 1.877). Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang ditengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
8). Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi,
Ginawe kang paring gesang,
Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki,
Wonten ing sakwasanipun,
Sadaya pra Jawata,
Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti anak akng akarya.
Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
9). Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawa,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh serna aneng wana,
Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
10). Bumi ilang berkatira,
Ama kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
Pan sisaknya nglangkungi,
Karana rebut rinebut,
Risak tetaning janma,
Yen dalu grimis keh maling,
Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.
Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang mnyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tetapi bila siang hari banyak begal.
11). Heru hara sakeh janma,
Rebutan ngupaya bukti,
Tan ngetang angering praja,
Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung,
Lelara ngambra-ambra.
Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan Negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.
12). Kasandung wohing pralaya,
Kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa,
Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami,
Tinempuhing angina angun,
Katah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,
Lamun tinon pan kados samodra bena.
Bahaya penyakit luar biasa. Disana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir, sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
13). Alun minggah ing daratan,
Karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan,
Kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir,
Samya kentir trusing laut,
Sela geng sami brasta,
Kabalebeg katut keli,
Gumalundhung gumludhug suwaranira.
Seperti lautan meluap arinya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri, Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan bergemuruh suaranya.
14). Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggeririsi,
Gumleger suwaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angelelebi,
Nrajang wana lan desagung,
Manugsanya keh brasta,
Kebo sapi samya gusis,
Surna gempang tan wenten mangga puliha.
Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap kekanan serta kekiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
15). Lindu ping pitu sedina,
Karya sisahing sujanmi,
Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh,
Kathah kang nandhang roga,
Warna-warni ingkang sakit,
Awis waras akeh kang praptng pralaya,
Gempa bumi 7 kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia masuk ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
16). Sabda Palon nulya mukswa,
Sakedhap boten kaeksi,
Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati,
Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun,
Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat itu sayekti tan kena owah.
Artinya:
Demikian kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin dirobah lagi.
——-
Kidung Pupuh Sinom ini masih sering dinyanyikan bahkan diyakini di tanah Jawa maupun di tanah Bali.
dari Serat Dharmo Gandul, Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya dalam ungkapannya dikatakan :
“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
Artinya : (“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang (arti kiasnya: sebagai pedoman hidup), Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)
Kalau menyusuri sejarah maka tahun 1478 Mojopahit jatuh. Kerajaan di Jawa Timur yang masih bertahan adalah Blambangan, hingga akhirnya Pedanda Sakti Wawu Rauh (Danghyang Nirartha/Danghyang Dwijendra), ke Bali tahun 1489 M.
Dalam hal ini yang dimaksud Sabda Palon di tanah Jawa adalah Pedanda Sakti Wawu Rauh (Danghyang Nirartha/Danghyang Dwijendra).
Apakah ini hanyalah sebuah mitos, atau memang merupakan sejarah yang sebenarnya terjadi?
Kebenaran dari cerita ini perlu lebih banyak pembandingan dan pembuktian yang bisa dilihat di beberapa pustaka seperti: Serat Dharmo Gandul Sabdo Palon, Dwijendra tatwa, dan lain-lain.
Bila ini memang benar adanya maka kita semua tahu dan sadar bahwa kita sedang berada di jaman dimana kebangkitan Kerajaan Majapahit dan Sabda di atas sedang berlangsung.










September 19th, 2009 at 9:47 pm
Kebesaran nama Majapahit tidak hanya terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah, tetapi ketika ia menyatukan Nusantara demi keadilan dan kemakmuran, semoga Majapahit2 masa kini muncul untuk mempersatukan yg tercabik-cabik
September 22nd, 2009 at 11:37 am
Om Swastiastu,
Bagus! sejarah inilah yang dari dulu saya cari, akhirnya saya temukan, untuk made haryoga, lanjutkan dan siarkan sejarah majapahit yang sebenarnya, saya ingin juga mendapat buku2 yang sdr tulis, jika ada kesempatan mohon hubungi saya. Suksma.
Made Agustama
HP. 08123927030
Mahasiswa Pasca Sarjana MMA UGM Yogyakarta
September 23rd, 2009 at 8:17 pm
@pak terah: semoga nusantara bersatu kembali dan lebih “Gemah Ripah Loh Jinawi”
@made agustama: wah maap pak made saya belum kesampean nulis buku, saya hanya penggemar dan pengagum kebesaran leluhur kita. dan berusaha sedapat mungkin mengungkap kebenaran yang tersembunyikan. terimakasih atas kepercayaannya. sudah saatnya generasi muda bangkit dan bersatu.
September 28th, 2009 at 12:38 am
Majapahit, Hindu, Budha, Kristen, Islam. Tidak akan Bangkit, Malah semuanya musnah. Karena 2/3 lebih Manusia menyembah setan dgn kedok agama.
Yang Bangkit adalah Kebaikan, Kekuatan Kasih.
September 28th, 2009 at 9:36 pm
@alvatarz:setuuujuuuuu…..!

berarti tinggal 1/3 donk yang idup??
October 15th, 2009 at 12:05 pm
kalki avatar adalah reinkarnasi Sabda palon noyogenggong.
Sabda palon ad. TRIMURTI yg melebur jadi satu wujud.
Kalki avatar ad. Sang Pemusnah krn Dewa Sywa ad dlm dirinya.
Kalki avatar lahir di Shamballa, yaitu tempat pertarungan antara kebenaran dan kejahatan yg ad dlm diri seorg manusia.
Gempa dr pantai selatan adalah tanda kemenangan dan lahirnya sang Kalki.
October 16th, 2009 at 8:01 pm
@alvatarz: wah dimana itu Shamballa? saya dengar juga di daerah gunung lawu, apa benar? saya jadi makin tertarik nich… bisa kirimkan sumber2 yang bisa saya baca?
terima kasih alvatarz
October 16th, 2009 at 9:04 pm
mimih..berat puk dok
October 17th, 2009 at 8:56 pm
@oponk: apanya berat ponk?
saatnya melihat perjalanan leluhur ponk
October 17th, 2009 at 9:35 pm
wah..SARA ne Ga,,, daripada SARA mending kita ngobrol yg porno2 aja..
October 29th, 2009 at 3:34 am
hm.. Dikaki gunung Lawu, sekelompok manusia penyembah Setan beritual hampir setiap malam.
Biasa… Mencari si tolol satrio piningit itu. Ya, pasti utk membunuhnya.
Emang monyet lahir digunung.
Dasar… Dukun2… Krg kerjaan. Melamar Pns aj.
Shamballa itu ya diri seorang manusia itu sendiri.
Sy rasa satrio piningit itu manusia tolol. Ternyata lbh tolol dukun2 itu.
Korban flm Lasmini kembang gunung lawu. Ha..ha..ha..
November 14th, 2009 at 12:12 am
salam mas haryoga…
entah ini mitos atau sejarah yang akan muncul kembali….majapahit telah menunjukkan tanda nya…dan saya salah satu yang beruntung sebagai saksinya….para raja yang dulu ada mulai hadir satu persatu…awalnya saya juga tidak percaya…tapi mata ini menjadi saksinya nanti disana…
kebaikan dan kejayaan akan muncul…mungkin tidak dengan nama majapahit…atau mungkin juga menjadi majapahit..entahlah…tapi saya dengan senang hati akan membagi sejarah dari sumber aslina (para raja)..cerita lama dibongkar satu persatu…mulai letak & posisi, filsafat bangunan, hingga palagan pati (area perang)…sama sperti anda, dan banyak orang pastinya…saya juga tidak percaya…tapi ini terjadi…semoga akan membawa kebaikan untuk kita semua…apapun bentuk dan agamanya…
November 14th, 2009 at 1:50 pm
@DGA: hehehe….. yang porno juga dilarang pak
@alvatarz: yaahh namanya juga manusia kan ada nafsu dan keinginannya heehee… wah saya gak tau masalah satrio piningit atau dukun2 itu
@bocah trowulan: saya jadi makin tertarik…..mohon dikirimkan perkembangannya… mungkin kita satu tujuan… semoga sesuatu yang terbaik yang terjadi
November 15th, 2009 at 11:55 am
sdr. Made,
benar sekali pendapat km.
Semua manusia dipengaruhi hawa nafsu.
Makanya manusia dgn segala cara berupaya mencari Satrio itu.
Atau buat satrio sendiri sbg tandingan.
Kalau ada org2 Sakti yg bilang mengharapkan Satrio Piningit segera datang/muncul, itu bohong belaka.
mengapa begitu?
Karna Sabda Palon musuh Semua Kejahatan. Dan bersumpah menghancurkan semuanya.
Kan manusia yg baik2 tinggal sedikit skali.
Jd bayangkan berapa byk manusia yg harus mati karna Satrio Piningit.
Tugas satrio tsb bukan membangkitkan agama hindu, kerajaan tertentu. Tetapi sebagai pemusnah semua agama dan kekuasaan di bumi.
Setelah itu akan ada jaman baru dimana semua manusia hanya menyembah 1 Tuhan dlm 1 ajaran kasih.
Bumi baru yg dipimpin oleh anak anak asuh Sabda Palon Nayagenggong.
Agama Hindu, budha, kristen akan dimurnikan dlm satu ajaran Kasih.
Karna dari semula ad. satu kembali menjadi satu.
Agama islam dihapus selamanya.
Itulah yg disebut kiamat dlm ajaran islam.
Apa umat Hindu, budha, kristen, islam mau agamanya dihapus dan diganti dgn yg baru ???
Tidak.
Ha..ha..ha.. Itulah makna ramalan jayabaya, sabda palon, iching, injil matius ttng kebangkitan ratu pantai selatan dan org2 niniwe, budha maitreya, avatar kalki, dsb.
Semuanya satu makna.
Penghancuran dan pemurnian bumi telah berjalan, lamanya tertulis jelas dlm kitab suci selama satu, dua, tiga masa lebih atau 1350 hari.
Setelah itu tak akan ada lagi duka dan air mata.
Apa yg harus dilakukan manusia ?
Jalani dan nikmati keindahan hidup ini dgn santai, tetapi tetap dlm jalan kasih.
So everything will be happy at the end.
December 2nd, 2009 at 9:04 am
wah ikutan comment…

tulisan yang bagus bang Yoga.. saya rasa ini bukan masalah SARA, tapi ini adalah fenomena yang terjadi dalam masyarakat global, yang dilihat dari sudut pandang sebagai seorang pewaris Majapahit (balinese), dari dulu kita sangat tabu membicarakan masalah seperti ini, jadinya muncul ketidak jelasan, dan kurang pengertian, akibatnya malah jadi semakin buruk dari yang kita bayangkan..
saya sangat Setuju dengan tulisan Alvatars di atas, “Itulah makna ramalan jayabaya, sabda palon, iching, injil matius ttng kebangkitan ratu pantai selatan dan org2 niniwe, budha maitreya, avatar kalki, dsb.
Semuanya satu makna.” benar Bang, semua berharap keajaiban terjadi… saloot… semua kepercayaan diatas mengaku dirinya Murni, mengaku bahwa surga hanya diperuntukkan bagi kaumnya, lainnya hanya kafir, penyembah berhala, penyembah jin, penyembah setan… hohohoho, bahkan beberapa dari yang mengaku murni itu bersumpah akan menghancurkan yang ini dan yang itu, mereka menyebarkan kutukan, dan ramalan kehancuran…..
RENUNGKANLAH, sesungguhnya ketika kamu berteriak mengatakan bahwa dia kafir, bahwa dia penyembah setan, kamu telah berkata FITNAH.. kamu gak mengenal dia, kamu gak tahu apa yang dia pikirkan, kamu gak tahu apa yang dia rasakan..
RENUNGKANLAH, semakin hari kita semakin memperbesar api kebencian dalam hati kita, semakin hari kita menutup mata hati kita, semakin hari nafsu, kebodohan dan kebingungan membelenggu.. benar gak ya????
apa mungkin ramalan tentang hari kiamat, pemurnian atau apalah namanya hanya merupakan keputus asaan manusia akan kehidupan sosialnya.. semakin hari, moral manusia semakin merosot, ekonomi semakin hancur… lihat aja, bencana, kelaparan, egoisme dan rasa ingin menguasai, pemaksaan, pemerkosaan, pemerasan, korupsi, ada di setiap tempat.. bahkan pada diri sendiri pun… Yang lucunya, para intelektual yang mengaku mahasiswa, para wakil rakyat yang terhormat bahkan penegak hukum (jaksa, polisi, KPK) ikut2an melakukan hal itu… hohohoho satu lagi mafia kesehatan dan pendidikan (terbesar tuh).. xixixixixi
saya ingin menawarkan konsep pemikiran saya.. satu yang simple:
bro dan sis, mari setiap saat kita sempatkan diri untuk berdoa.. dalam setiap Doa, mari kita minta kepada Yang Kuasa agar teman kita, ataupun musuh kita, selalu hidup dalam kedamaian, semoga semuanya makmur, semoga semuanya bahagia..
bagi yang punya banyak warisan, mari jangan jual tanah warisan hanya demi kemewahan, dan gengsi,.. bagi yang punya duit lebih banyak, yuk mari beli kembali aset2 kita yang telah dijual oleh “Nyama Braya” kita sendiri.. Bali sudah bukan Bali, Faktanya 70% aset di pulau bali bukan milik orang Bali, tul Gak?????.. bagi yang merasa ada getaran atau panggilan di lubuk hatinya, yuk kita bekerja, jangan hanya sibuk merenung, sibuk berdebat dan mengumpat (talk less do more).. yuk kita mengumpulkan Rupiah (tentunya dalam jalan Dharma), yuk berbagi… yuk selamatkan Aset2 kita.. Bersama kita bisa Bro… sekali lagi YUK BEKERJA, KUMPULIN RUPIAH YANG BANYAK.. klo gak rupiah, DOLLAR juga boleh… wakakkakakka… semangat….
December 5th, 2009 at 1:36 am
ya bagus sekali saya setuju dengan akan adanya ini”:
( Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya.)
biar ada tatanan yang mapan.tamu yang datang pulang ke rumahnya,bangsa kita sebagai tuan rumah tetep jadi raja di tanahnya sendiri.
November 1st, 2010 at 8:04 pm
@alvatars: saya sangat setuju dengan alvatars… senang ada orang seperti anda…. berharap bisa kenal dengan anda.
@jepo: yupp benar sekali saudaraku…jangan sapai pulau ini hilang taksunya..hilang cahayanya…jangan sampai anak cucu kita tak punya tempat ditanah suci ini karena diusir mereka yang punya uang banyak..
@klethoung:yup yup… saya juga setujuuuhhh…
February 6th, 2011 at 10:02 pm
Saya membaca artikel ini dan komentar2nya, mengagungkan Jaman Hayam Wuruk/Gajah Mada hanya akan memecah belah Indonesia saja, suku Sunda, dan suku2 di luar Jawa akan menolaknya, karena masa Hayam Wuruk di anggap sebagai jaman penjajahan oleh Raja Jawa. Dan Gajah Mada adalah bukan asli orang Indonesia sehingga rela menduduki kerajaan sekitar Majapahit. Sebelumnya tidak pernah.
February 22nd, 2011 at 10:11 am
Rahayu, rahayu, rahayu…..perlu juga kita belajar dari masa lalu kita supaya ga kesasar jalan yang salah. Mari kita memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kita selalu dalam bimbingan-Nya. Jadi, kalau kita kesasar, kita kesasar ke jalan yang benar
semoga kita menjadi golongan hamba-Nya sedikit itu. Dan sama-sama kita jaga negara kita tetap ada dan berkembang.
Prof Tanzil, guru besar antropologi UI, pernah touring dengan istrinya ke Brazil dan bertemu dengan penduduk asli/indian Brazilia. Ternyata mereka mengaku sebagai keturunan Majapahit.
Demikian juga ketika beliau pergi touring ke Taiwan bersama istrinya. Penduduk adli Taiwan mengaku sebagai keturunan Majapahit.
jangan lupa, Tan Malaka dan beberapa pendiri Republik Indonesia menyatakan Filipina adalah Indonesia Utara. Tentunya omongan ini muncul karena sudah ada hubungan yang lama dengan penduduk Filipina.
Mugi rahayu sedaya.
eko gita gendhon, jakarta
April 23rd, 2011 at 10:58 am
Sabdo palon :’benjing yen sampun mretobat, sami enget dhateng gama budhi malih lan sami purun NEDHA WOH KAW’RUH, dewo lajeng PARING PANGAPURA, saged wangsul kados jaman budhi jawahipun’.
Makan woh kaw’ruh nikmat, rasanya meresap di hati. Semua agama sdh melupakan menu utama ini. Ini makanan jiwa, makanan nafas, sati’ya-satu’hu satu hakekat.