Merendah Itu Ternyata Indah

Sat, May 16, 2009

Heart Sound

Menonton Kick Andy kemarin malam membuat hati sedikit hilang kegundahannya. Menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus dicapai dengan memperoleh kedudukan dan kekayaan tapi alangkah lebih baik bila kebahagiaan itu diperoleh dari kepuasaan menolong orang lain. Seperti yang dikatakan gede Prama di acara ini, sementara politikus kita berebut kedudukan untuk membahagiakan dirinya, namun dipinggiran sana ada ibu-ibu yang mendapatkan kebahabiaannya dengan secara sukarela mengajarkan ibu-ibu buta aksara untuk belajar membaca dan menulis. Benar-benar tipe kebahagiaan yang berbeda.

Saya jadi ingat dengan cerita kebijaksanaan yang ditulis Bapak Gede Prama ini yang bercerita tentang kerendahan hati menjadi jalan hidup. Saya sengaja mengutipnya beberapa tahun lalu.

MERENDAH ITU INDAH
Posted by Gede Blue on 2004-09-15

Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja : bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.

Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, ’seperti sentimen, benci, dan sejenisnya ‘, menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif ’sabar, tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya’ menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang memerlukannya.

Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi demikian. Penyelesaian persoalan manapun ‘termasuk persoalan perburuhan ala Shangrila’ bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.

Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif, kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.

Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai pengkondisian yang mematikan.

Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang membuatnya demikian, karena laut berani merendah.

Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian untuk merendah.

Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : ‘kita bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati’.

by Gede Prama

, , , , , , , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 59 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

6 Comments For This Post

  1. Deddy Says:

    Hidup ini, apakah bahagia atau menderita, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Selalu positive thinking! Meski kadang berat, ayo sama2 berusaha… :)

  2. haryoga Says:

    walau semuanya berat… hidup memang harus dihadapi tanpa menoleh kebelakang lagi. smangat! :lol:

  3. suwi Says:

    iya boss, kebiasaan merendah itu bagus sekali, bahkan udah sering mencoba menerapkan :mrgreen:
    tapi ntar klo kita biasa merendah n diinjak2 orang lain, malah bisa kebiasaan orang lain menginjak2 n menzolimi kita…. maklum udah kali yuga or jaman edan… mungkin harus sesuai dengan desa(tempat), kala(waktu), patra(situasi). peace.

  4. haryoga Says:

    @suwi: iya bos… begitulah jeleknya kalo dikasi nginjak sekali pasti ketagihan heeeheeee… tapi itu terserah masing2 individu mau berlaju dengan kehidupan yang bagaimana….peace juga dech

    haryoga’s last blog post..ATLS : pasienku tertidur saat ujian

  5. apsari saja Says:

    kalau cuma sebatas wacana sepertinya mudah saja untuk down to earth.
    tapi reality nya gmn ya??
    hehehe..tapi semua hal mmg perlu proses pmbelajaran.. ;-)
    klo sudah berusaha ga ada yg ga mungkin kan..

  6. Terah Says:

    Kerendahan hati merupakan ruang tunggu bagi kesempurnaan

    Terah’s last blog post..”Entrepreneurial Intelligence (Entre Q)”

Leave a Reply