Beberapa kali pelayanan kesehatan di masyarakat pedesaan di Bali tampaknya masalah kulit menjadi penyakit yang selalu masuk dalam 3 besar. Entah karena kesadaran tentang hidup sehat masyarakat yang kurang, faktor ekonomi, lingkungn, kebersihan badan yang kurang, atau yang lainnya membuat saya ingin mengulas sedikit tentang salah satu masalah kulit ini.
Masalah ini adalah Penyakit kulit okupasional. Ialah suatu penyakit kulit di mana paparan terhadap bahaya fisik, kimia, ataupun biologi di tempat kerja menjadi penyebab atau faktor kontribusi utama dalam perkembangan penyakitnya. Diagnosisnya memerlukan index kecurigaan yang tinggi dan pengetahuan mengenai lingkungan pekerja.
Dermatitis kontak berkontribusi sebesar 60% dari semua dermatosis okupasional dan 40-70% dari penyakit yang didapat oleh karena pekerjaan. Sedangkan sisanya dapat berupa Urtikaria Kontak, Infeksi Okupasional, Dermatosis Oleh Karena Penyebab Fisik, dan Bermacam – Macam Dermatosis Terkait Pekerjaan lainnya.
Dermatitis kontak dapat berupa iritan, alergi ataupun keduanya. Dermatitis kontak dapat terjadi bersamaan dengan dermatitis endogen seperti dermatitis atopik. Secara umum, morfologi dermatitis kontak tidak dapat dibedakan dengan dermatitis endogen. Sebagai contoh, likenifikasi merupakan suatu fenomena atopik, dan blister (kecuali pada telapak tangan dan telapak kaki) lebih cenderung terjadi pada dermatitis kontak. Dermatitis interdigital biasanya berhubungan dengan pekerjaan yang banyak kontak dengan air.
Diagnosis dermatitis kontak yang berhubungan dengan pekerjaan (dermatitis kontak okupasional) ditegakkan berdasarkan anamnesa dan distribusi dari dermatitis, eklusi penyebab lain, dan tes alergi.
Jenis pekerjaan yang paling sering menyebabkan dermatitis okupasional yaitu: Juru masak/koki, Penata rambut/ahli kecantikan, Dokter/dokter gigi/perawat/dokter hewan, Petani/tukang kebun, Tukang sapu/tukang cuci, Pelukis, Mekanik/montir, Tukang cetak, dan Konstruksi
Terkadang dermatitis alergi atau dermatitis iritan yang berkepanjangan tidak membaik ketika paparan dihentikan – beberapa alergen bersifat “istimewa”, misalnya chromate.
Penyebaran dermatitis kontak dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
- Tempat paparan dengan bahan kimia/zat;
- Mekanisme iritan/alergi;
- Oklusi;
- Penyakit kulit sebelumnya;
- Variasi regional dalam hal kerentanan kulit terhadap dermatitis alergi/iritan.
Dermatitis Kontak Iritan
Iritan merupakan substansi yang akan memicu dermatitis pada setiap orang apabila diaplikasikan pada kulit: Pada konsentrasi yang cukup tinggi; Dalam waktu yang cukup; atau Dengan frekuensi paparan yang cukup.
Tiap orang memiliki predisposisi yang berbeda terhadap iritan, namun menurunkan konsentrasi iritan akan mengurangi dan bahkan menghilangkan kemungkinan seseorang untuk menderita dermatitis.
Karena itu, dermatitis iritan bergantung pada konsentrasi iritan
Faktor-faktor yang meningkatkan sifat iritan antara lain adalah oklusi, panas, trauma kulit sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit maupun trauma.
Oklusi dapat disebabkan oleh sarung tangan, pakaian dan cincin, dan terkadang oleh barrier cream.
Sifat iritan dari suatu substansi tergantung pada kemampuan substansi tersebut untuk menghilangkan lapisan lipid permukaan (lipid interselular dari stratum korneum) dan/atau kemampuannya untuk merusak sel. Sekali korneosit permukaan rusak, potensi iritan yang diperlukan untuk mempertahankan kerusakan menjadi lebih rendah daripada yang diperlukan untuk memicu kerusakan pada tempat awalnya.
Iritan dapat berupa: asam, alkali, pelarut, deterjen/sabun, bahan abrasive, enzim, oksidan, bahan pengurang, minyak, larutan garam terkonsentrasi, plastik dengan berat molekul rendah dan, bahan kimia higroskopik.
Dermatitis iritan sering kali merupakan akibat kumulatif dari bermacam-macam faktor lingkungan (mis. suhu ruangan dingin, minyak dan pelumas, pelarut, pembersih tangan).
Tidak semua pekerja pada tempat yang sama akan menderita dermatitis iritan. Siapa yang terkena tergantung dari predisposisi individunya (mis. atopik lebih mudah terkena), higienitas individu, dan kondisi paparan.
Iritan biasanya menyebabkan dermatitis pada tangan/lengan bawah. Efek iritan tergantung dari konsentrasi iritannya, karena itu biasanya hanya mengenai daerah kontak utama.
Wajah dapat teriritasi oleh debu, uap, atau aerosol. Partikel iritan yang mencapai sepatu boot atau pakaian dapat menyebabkan dermatitis pada tempat yang tidak biasa dimana efek iritan tersebut diperbesar oleh friksi dan oklusi.
Penatalaksanaan dermatitis kontak iritan
Obati dengan steroid, emollients, antibiotik,dll. 
Kurangi paparan iritan: Kurangi frekuensi atau durasi paparan. Ganti dengan bahan kimiawi yang lebih tidak iritatif. Hindari oklusi, hindari trauma kulit, Hindari panas dan kelembaban yang berlebihan, Gunakan pakaian pelindung (mis. sarung tangan yang cocok). Gunakan krim pelindung bila perlu.
Bila terdapat indikasi perubahan bahan kimia atau kerja, saran dapat diperoleh dari staff Bagian Pelayanan Keamanan dan Kesehatan Kerja Departemen Pekerja, spesialis pengobatan pekerja, atau ahli dermatologi di bidang dermatologi pekerjaan.










February 2nd, 2009 at 2:27 pm
Sepertinya Yankes menyenangkan banget yach?
jadi pengen ikutan…
February 3rd, 2009 at 7:32 pm
pd bbrp kasus, oklusi steroid cukup membantu
February 4th, 2009 at 1:01 pm
@martha: yoooii menyenangkan banyak liat kasus yang aneh2, tapi kebanyakan si kasus rematik n kulit. sehari bisa sampe 300 pasien bos hee heee
@dani: thanks salam kenal