Saat Dunia Meninggalkannya.. Bali Mempertahankannya

Thu, Jan 15, 2009

Bali Island, Heart Sound

Datang ke sebuah pulau kecil di kaki pulau bali yang bernama nusa lembongan, tempat para wisatawan berlibur ditemani masyarakat desa yang ramah dan sederhana. Disitu kami beberapa anggota BCC (Bali Blogger Community) mengadakan bhakti social berupa pelayanan kesehatan gratis, pemasangan plang penunjuk arah dan pembersihan pantai dari sampah-sampah nonorganic, membuat tahun baru 2009 ini berbeda dari tahun baru sebelumnya.

Namun ditengah kegembiraan membersihkan sampah di pantai kami duduk dipinggir pantai sambil bergurau dan meratapi nasib bangsa ini, tak sengaja mata ini te

rtuju pada seorang ibu tua yang ditemani suaminya yang sudah keriput mengangkat janur-janur dari jukung yang baru saja berlabuh mengangkut mereka dari daratan. Sepertinya mereka baru datang dari perjalanan sehari-harinya sebagai pembuat canang dan banten (sarana sembahyang umat hindu). Dengan tertatih-tatih dan punggung yang mulai membungkuk sebagai tanda usia mereka mengangkut janur-janur segar dari jukung itu. Sesekali bapak yang punya jukung membantu memindahkannya ke punggung si bapak tua.

Walau tubuh sudah membungkuk, usia menopause sudah terlewati, ibu yang tua itu masih menikmati pekerjaannya ya

ng sesekali membanting tulang untuk bertahan hidup sebagai seorang ibu. Bapak tua dengan kulit hitam keriput terbakar terik matahari pantai dengan setia mencintai dan menemani istrinya meneteskan keringat bersama. Sungguh romantis dan mengharukan melihat rasa cinta mereka. Fiiiuuuuhhh…. Melihat betapa besar semangat hidup mereka membuat dada ini spontan menarik nafas dalam. Tapi melihat senyum mereka ditengah-tengah keringat yang menetes membuat hati ini merenungi akan betapa besarnya pengaruh budaya di bali yang diteruskan turun temurun oleh nenek moyang terhadap kehidupan orang bali. Bersyukurlah orang bali memiliki budaya yang begitu indah membuat semua orang masih bisa tersenyum dalam setiap ker

ingatnya dan usianya. Mencintai semua makhluk dan budayanya.

Nenek moyang orang bali telah menurunkan rasa cinta terhadap semua makhluk kepada anak cucunya melalui tradisi dan budayanya. Membuat canang dari janur dan bunga, membuat penjor dari bambu dan tanaman yang terlihat sekilas tidak berguna, membuat sarana prasarana sembahyang dari buah-buahan, sayur, kayu, kelapa, pinang, sirih, daun, pisang, batu, semuanya bahan-bahan alami ini dapat diperjual belikan membuat perekonomian tetap berjalan. Tak ada krisis global di bali. Janur sampai daun kelapa tua pun dapat di jual dan dipergunakan untuk sarana mendekatkan diri pada Tuhan. Sungguh budaya yang indah dan dekat dengan alam.

Nenek-nenek dan kakek-kakek tua tidak perlu takut kehilangan pekerjaannya selama budaya ini masih ada. Tubuh-tumbuhan dan hewan tak akan pernah punah selama tradisi ini dijunjung tinggi. Tak akan ada kata pemanasan global atau kota yang penuh asap selama budaya ini tetap dijalankan. Begitu kuat dan indahnya budaya orang bali. Jarang pernah kita syukuri dan renungkan.

Disinilah buah kelapa muda dan tua itu dibutuhkan, disinilah daun pisang tua dan kering itu ada yang beli, disinilah sirih pinang kapur itu setiap hari diracik dan disayangi, disinilah buah-buahan itu bisa menjadi hiasan sebelum dipersembahkan dan dimakan. Disini lagi daun-daun yang kita kira tidak berguna ternyata bisa dijadikan bahan mendekatkan diri pada-Nya. Disinilah secuil beras merah dan kunyit itu dibutuhkan sehari-harinya. Saat dibelahan dunia lain semua ini ditinggalkan namun disini hal

kecil itu masih tetap menjadi teman hidup sehari-hari… disini… hanya di bali burung-burung kecil bahkan

semut disediakan dan mendapatkan makanannya. Setiap hari seujung jari nasi dipersembahkan dan dimakan oleh mahluk-mahluk kecil ini di setiap depan rumah, disetiap pojok pekarangan, dan disetiap ujung jalan. Disinilah itu terjadi..di pulau surga ini….

Namun akankah anak cucu orang Bali kelak mempertahankannya… budaya yang indah ini?

, , , , , , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 62 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

13 Comments For This Post

  1. Deddy Andaka Says:

    Bagus banget tulisannya Har. Iya, sekarang tugas generasi muda untuk menyerap hal positif dari sebuah peradaban bernama “Teknologi” dan memanfaatkannya untuk mempertahankan sebuah budaya yang ada.

    Kemajuan zaman itu sesuatu hal yang tidak bisa dibendung. Namun sekarang bagaimana agar kemajuan zaman itu tidak menghilangkan sisi manusia kita.

    Dije jani megae? :wink:

  2. haryoga Says:

    @deddy: hee heee bos deddy terima kasih kunjungannya
    saya ptt di dinkes bos belum penempatan nich..kangguang dibali gen… ada lowongan kerja sore yang menjanjikan bos?

  3. yudi Says:

    jawabnya : sangat HARUS bisa..

  4. Toppedia Says:

    Budaya qta harus dipertahankan, tapi adat mesti disederhanakan tanpa mengurangi maknanya. Karena dibali ini masih rancu antara mana adat mana agama.

    salam kenal, berkunjung ke blog saya ya, dan jangan lupa dukungannya.
    thanks

  5. ekads Says:

    nah, ini merupakan PR yang amat besar bagi kita generasi muda Bali…

  6. milani singaraja Says:

    tulisan yang hebat dok… saya jadi terharu…

  7. atik Says:

    ternyata masih ada ank muda yang peduli dengan nasib bali berikutya……
    maksi tulisannya tenang kelainan letal lintang & sungsangmembantu tugas kuliah sya…..
    :grin: :grin: :grin:

  8. ari Says:

    Yoga..emang bener kita harus mempertahankan budaya..karena itu adalah harta..budaya erat kaitannya dengan adat..menurut saya adat harus disesuaikan denga kondisi saat ini, jangan sampai ada yang terhambat karena aturan2 lama yang sebenarnya bisa dikompromikan.. karena aturan2 lama yang terlalu ketat khawatirnya justru membuat bali tertinggal…

    btw eniwei.. tulisanmu agak ‘menyindirku’ karena aku ga bisa majejaitan hiks hiks..hehhee..

  9. Terah Says:

    Budaya merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Bali yang harus dipelihara. Ini merupakan representasi dari keluhuran nenek moyang masyarakat Bali yang harus terus dipertahankan… Tugas kita semua yang tinggal di Bali untuk menjaga dan memagarinya dengan agar tetap Abadi

  10. haryoga Says:

    @yudi: yup harus bisa!!
    @topedia: yoi.. jadikan masyarakat indonesia masyarakat yang berbudaya
    @ekads: PR buat kita semua…yup yup..
    @milani singaraja: thanks yoo
    @atik: yup met bikin tugas yoooo… smangat!! :lol: :lol:

  11. haryoga Says:

    @ari: hihihi maaf maaf ari… gak bermaksud menyindir. :oops: :oops: :roll: yup dari dulu memang terus beradaptasi dengan keadaan kan? tapi yang tetap dijunjung selalu Tri Hita Karana : bagaimana menghargai alam semesta lingkungan kita bumi tercinta, menghargai umat manusia (bukan sesama aja hehee), menghargai Tuhan Yang maha Esa tentunya.begitu menurut saya. :lol:

    @pak terah: setujuu… semua harus menjaganya.terima kasih pak :oops:

  12. Jepo Says:

    MANTAP BRO…TULISAN yang INDAH…

    Jawaban perfect buat pertanyaan slogan “Nak Mula Keto” yang selama ini ada di benak kaum muda Bali… Filsafat yang terkandung dalam ribuan upacara, ribuan ritual dan ribuan banten, telah terjawab sudah dan teramu dengan sangat indah dalam tulisanmu..

    Berharap semua kaum muda Bali membaca tulisanmu ini..
    Kepolosan dan Kesederhanaan Bali yang selama ini masih jadi mistery, terjawab sudah… SAloot buat I made Haryoga…

  13. I Made Setiawan SH Says:

    Saya jadi Rindu Bali tempo dulu. Indahnya bermain dibulan Purnama, Indahnya pantai Sanur, senyum alam dipagi hari dibalik embun yang membayangi Gunung yang berdiri gagah. Ayam mekruyuk sahut-menyahut.Kebutuhan sehari-hari terasa tak perlu memikirkan karena sambil mandi ikan tinggal ditangkap sesukupnya,sayur,buah,beras metik dipagar. Sopan santun,tata susila menyama braya saling asah-asih-asuh dengan penuh kasih sayang.Pulang dari sawah membawa jubel,lindung,kakul dan jukut gondo,paku dsb. Kapan Bali bisa Kembali?

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
  • Partner links