Mohon Maaf Lahir Bathin Bung Karno

Thu, Oct 2, 2008

Soekarno

Saat umat islam merayakan hari idul fitri dan saling maaf memaafkan, saya berpikir untuk mengajak kawan-kawan mengenang sedikit tentang seorang muslim yang tentunya tidak asing lagi ditelinga dan mata kita, Bung Karno. Walau saya dilahirkan dua generasi di bawah beliau tetapi semangat beliau, dan rasa cinta beliau terhadap tanah air dan rakyat Indonesia masih saya rasakan dalam hati dan menjadi inspirasi dalam hidup saya. Semua perbuatan yang telah beliau lakukan untuk nusantara mencerminkan cinta kasih dan pengabdian yang tulus bagi nusantara.

Siapa sebenarnya soekarno? Kita tidak begitu kenal dengan siapa sebenarnya beliau, tapi ulasan berikut adalah secuil dari kisah perjalanan hidup beliau. Saya ambil dari berbagai sumber.

Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945- 1966, menganut ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901.

berasal dari keturunan bangsawan Jawa (Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, suku Jawa dan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, suku Bali)

Masa kecil Bung Karno sudah diisi semangat kemandirian. Beliau hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu beliau pun telah menggembleng jiwa nasio-nalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, beliau pindah ke Bandung dan me-lanjutkan ke THS (Technische Hooge-school atau Sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Beliau berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.

merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, si penjajah, menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul ‘Indonesia Menggugat’, dengan gagah berani beliau menelanjangi kebobrokan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan beliau berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik sangat hebat. Beliau pun tak mau membubarkan PKI yang dituduh oleh mahasiswa dan TNI sebagai dalang kekejaman pembunuh para jenderal itu. Suasana politik makin kacau. Sehingga pada 11 Maret 1966 beliau mengeluarkan surat perintah kepada Soeharto untuk mengendalikan situasi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Supersemar. Tapi, inilah awal kejatuh-annya. Sebab Soeharto menggunakan Supersemar itu membubarkan PKI dan merebut simpati para politisi dan mahasiswa serta ‘merebut’ kekuasaan. MPR mengukuhkan Supersemar itu dan menolak pertanggungjawaban Soekarno serta mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden.

Kemudian Bung Karno ‘dipenjarakan’ di Wisma Yaso, Jakarta. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 beliau meninggal dunia di RSPAD. Beliau disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi ini meninggalkan 8 orang anak. Dari Fatmawati mendapatkan lima anak yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Dari Hartini mendapat dua anak yaitu Taufan dan Bayu. Sedangkan dari Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mendapatkan seorang putri yaitu Kartika.

Demikian sedikit ulasan tentang kisah hidup beliau. Bila ada cerita yang salah mohon diperbaiki.

Begitu kerasnya hidup beliau, sejak remaja beliau telah berpikir, berkata, dan berbuat untuk kemerdekaan bangsa Indonesia ini lalu apa yang telah kita lakukan sampai saat ini. Saya merasa malu, Di umur yang sudah menginjak seperempat abad ini belum ada hal berarti yang saya lakukan untuk bangsa. Bagaimana dengan anda? Semoga beliau memaafkan dosa-dosa kita yang belum berbakti pada nusa dan bangsa ini, dan memberikan bimbingan untuk menjadi manusia yang berguna bagi nusantara tercinta.

, , , , , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 61 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

Leave a Reply

CommentLuv Enabled