Mari Bangun Adik-Adik Kisara

Sun, Sep 21, 2008

Remaja

Kehidupan ramaja bali kini tidaklah seperti kehidupan remaja bali dahulu seperti tahun 80an. Begitu banyak hal yang berubah. Kebiasaaan-kebiasaan yang dulu dianggap tabu sekarang tidak lagi menjadi tabu bahkan menjadi hal yang biasa dilakukan oleh sebagian kalangan remaja. Seperti salah satu kebiasaan yang dibilang sebagai ungkapan Sex in the Cost yang maksudnya melakukan hubungan seksual di kamar kost. Hubungan seksual pranikah bukan hal yang jarang lagi dijumpai dikalangan remaja saat ini. Baik dikalangan remaja SMP ataupun SMU apalagi remaja yang sudah menginjak masa kuliah, seks memang menjadi obrolan yang menduduki peringkat pertama. Banyak hal yang menjadi factor pendukung kenapa perubahan perilaku yang begitu besar terjadi dikalangan remaja bali khususnya dalam hal seks. Mungkin karena informasi tentang seks yang semakin mudah diakses, mungkin juga sarana internet dan teknologi komunikasi yang semakin murah dan ramai sehingga media-media porno semakin mudah didapatkan, atau mungkin karena proteksi orang tua terhadap anak-anaknya yang kurang gencar dilakukan, atau kurangnya sarana informasi yang benar tentang seks sehingga kehidupan seksual remaja menjadi tidak terkontrol. Banyak factor yang menyebabkan perubahan ini terjadi. Angka seks pranikah dikalangan remaja terus melaju naik tahun demi tahun bulan demi bulan bahkan hari demi hari. Terbukti dari surve-surve yang telah dilakukan berbagai instansi termasuk salah satunya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang juga bergerak di bidang Kesehatan Reproduksi remaja KISARA (Kita Sayang Remaja).

Dalam okanegara.com disebutkan bahwa: Dari bulan Agustus 2002 hingga Agustus 2003 KISARA PKBI Bali melakukan sebuah survey mengenai sikap dan prilaku pacaran dan aktivitas seksual pada siswa SMP kelas 3 hingga SMA kelas 1 (di bawah 17 tahun) di sekolah di daerah Denpasar, Badung,Tabanan dan Gianyar. Tercatat bahwa yang pernah pacaran adalah sejumlah 526 atau 23,75% dari total 2215 responden. Tidak satupun (0%) yang menyatakan bahwa hubungan seksual sebelum menikah itu boleh. Hal yang sama ditemukan pada pertanyaan apakah aktivitas petting, anal seks, oral seks diperbolehkan selama belum menikah. Yang diperbolehkan menurut responden adalah masturbasi, disebutkan oleh 44,15% responden, ciuman bibir (21,58%), cium kening/pipi (55,85). Tetapi ketika ditanyakan dengan aktivitas mana yang sudah mereka lakukan (dihitung dari yang sudah pernah pacaran), ditemukan data bahwa 2,28% sudah melakukan hubungan seksual, dan 0,57% sudah melakukan salah satu dari petting, anal seks, oral seks. Ciuman bibir sudah dilakukan oleh 13,12% responden yang sudah pernah pacaran, ciuman kening/pipi (26,24%), masturbasi dilakukan oleh 51,63% laki-laki, pada perempuan 3,32%.

Dikutip dari Kisara.org, dikatakan bahwa: Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) 2002-2003 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 57,5 persen dan yang berusia 15-19 tahun sebanyak 43,8 persen. Sedangkan perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 63 persen. Perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen. Hasil SKRRI 2002-03 menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah umumnya masih ditolak. Namun dalam kondisi tertentu penduduk usia 15-24 tahun belum menikah memberikan toleransi yang cukup besar bagi seseorang melakukan seks pra nikah, terutama jika telah merencanakan untuk menikah. Sekitar 29,6 persen diantara laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah yang setuju dengan seks pra nikah menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut akan menikah dan 26,5 persen menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut saling mencintai.

Melihat hasil survey ini muncul tanda Tanya besar dalam pikiran kita WHY? Kenapa hal ini bias terjadi pada remaja kita? Apakah ini karena zamannya sudah seperti ini?

Perlu kita renungkan kembali bahwa kita harus melakukan sesuatu pada remaja kita. Perlu dibuat sebuah wadah yang memberikan informasi yang benar tentang seksualitas. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi yang benar harus lebih mudah diakses sehingga remaja tidak terjerumus kedalam pengaruh mitos-mitos yang negative tentang seks. Remaja perlu lebih banyak lagi pendidik-pendidik sebaya yang bisa merangkul semua remaja di negeri ini. Seperti yang dilakukan oleh Kisara (kita Sayang Remaja) yang sejak 1994 sudah merupakan lembaga dari oleh dan untuk remaja yang menyebarkan informasi yang benar tentang Kesehatan Reproduksi kepada remaja baik melalui ceramah-ceramah, konseling, dan siaran-siaran diberbagai radio untuk dapat membentuk remaja yang lebih bertanggung jawab terhadap semua perkataan, pikiran, dan perbuatan yang dilakukannya. Kita perlu membuat satelit-satelit kisara diseluruh Bali tercinta ini, membangun adik-adik Kisara diberbagai kabupaten, kecamatan, bahkan disetiap desa yang ada dibali. Demi menyelamatkan remaja-remaja bali, demi membangunremaja Bali yang Bertanggungjawab dalam perilaku kehidupan seksualnya.

By haryoga

, , ,

This post was written by:

haryoga - who has written 62 posts on imadeharyoga.com.

Saya I Made Haryoga. Selamat datang di rumah saya. Silakan lihat halaman about me untuk profil saya selengkapnya. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact the author

3 Comments For This Post

  1. Citra Says:

    Halo Har..gimana nich kabar?aku setuju adik2 Kisara musti berkembang…semangat!

    Btw menurutmu gimana dengan ide Remaja Belajar Ngeblog dengan Bahasa Indonesia?Setuju pa ga? Alasannya?

    Please jawab di artikel di blogku yach har….di sini http://citrajourney.wordpress.com/2009/08/26/penggunaan-bahasa-indonesia-sebagai-sarana-pembelajaran-blog-remaja-indonesia/#comment-119

    Mohon sekaligus dukungannya dengan sedekah komentar di artikel tersebut fren…..

    Thx a lot sejawat… ;-)

  2. Citra Says:

    Halo Dokter Haryoga, wah gak nyangka dikasih sedekah komentar..he.. Iya memang benar yang dokter katakan. Tetapi mungkin penggunaan bahasa Indonesia yang informal tergantung jenis postingannya. Jika blog atau postingan kita sudah kita arahkan ke gaya atau style yang informal, mungkin supaya konsisten bisa saja kita menggunakan gaya bahasa yang informal juga. Jika blog tersebut sudah konsisten, blog tersebut pun niscaya akan ramai pengunjung. Menurut Anda bagaimana?

    Dok Haryoga wrote:

    “setuju deeh….. mari gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. tapi kadang kita perlu juga untuk menggunakan bahasa gak resmi untuk menghilangkan kesan kaku.
    smanguuuaaatt”

    Mohon kembali dukungannya bro…supaya ada diskusi dikit..hihi….:p

    Komen ya ke: http://citrajourney.wordpress.com/2009/08/26/penggunaan-bahasa-indonesia-sebagai-sarana-pembelajaran-blog-remaja-indonesia/#comment-125

    Thx a lot fren… ;-)

  3. kadek ayu Says:

    manteb bngt krn z skrg kt sdang b’diri d akhr zaman..sgla sesuatu yg tak mungkn t’jd bs t’jd tp yg lbh penting adlh skap hti n integritas diri..krn dr it kt hrz b’gaul dgn org yg bjak,z pergaulan yg buruk merusak kebiasaan yg baik.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
  • Partner links